Memaafkan Jokowi

OPINI: Memaafkan Presiden Joko Widodo (2)

KONSTITUSI menjadi hal awam bagi rakyat. Sebab rakyat jarang menagih janji konstitusi agar membuat dirinya terbebas dari jerat kemiskinan.

Featured-Image
Ilustrasi-Opini Memaafkan Jokowi

KONSTITUSI menjadi hal awam bagi rakyat. Sebab rakyat jarang menagih janji konstitusi agar membuat dirinya terbebas dari jerat kemiskinan.

Sejak kapan rakyat berteriak menagih kepada pemimpinnya untuk melaksanakan konstitusi, setidaknya untuk merawat fakir miskin. Namun rakyat selalu memaklumi pemimpinnya, mungkin urusannya banyak sehingga luput dengan tugas utamanya melaksanakan konstitusi negara.

Siapapun presidennya, Jokowi atau Joko Widodo siapa saja nanti. Rakyat hidupnya mungkin akan begini-begini saja. Akrobatik apapun yang ditampilkan ke muka publik, rakyat tak ikut menari di atas dendang para penguasa yang menyanyikan lagu tentang kesejahteraan dan keadilan.

Baca Juga: [OPINI] Memaafkan Presiden Joko Widodo (1)

Justru sebaliknya, rakyat berpura-pura tersenyum melihat pemimpinnya memamerkan pencapaian yang mengawang.

Senyum rakyat tersungging. Sebab sepulang menonton pameran khayalan pemimpinnya, rakyat akan menemui takdirnya yang dekat dengan kemiskinan dan kesengsaraan.

Kata ini bukan bernada pesimis. Tapi realistis. Manusia tak hanya sekadar hitung-hitungan statistik yang dipamerkan dalam diagram batang maupun penjelasan rumit.

Tetapi manusia adalah abstraksi kehidupan yang selalu menggantungkan harapannya kepada para penguasa yang tak hanya manis di bibir, tapi ingkar dalam menebus amanat konstitusi.

Baca Juga: Jokowi Akui Kenikmatan Hidup Presiden di Istana Negara

Merawat manusia menjadi persoalan rumit tatkala dibenturkan dengan miskinnya kewarasan pemimpin dalam memimpin manusia. Jokowi kini membebankan dirinya untuk mengurus manusia. Jumlahnya banyak sekali.

Tetapi ratusan juta manusia di Indonesia akan mencari penghidupannya sendiri tanpa menatap pemimpinnya yang sibuk mencatatkan pencapaian yang tak dirasakan masyarakat.

Rakyat akan bangun sepagi mungkin dan istirahat selarut mungkin untuk memastikan kebutuhannya terpenuhi. Tak jarang mereka larut dengan kelelahan yang dibayangi kebutuhan yang sukar dicapai.

"Jokowi, memimpin manusia memang rumit,".

Namun lebih rumit lagi jika rasa batin tak sejalan dengan kuasa yang diemban. Sebab manusia tak membutuhkan sekelumit hasrat untuk dijejali janji. Mungkin saat itu rakyat tersenyum, bahkan bersorak.

Tapi itu kepalsuan demi membuat Jokowi yakin bahwa tipu daya kampanye membuat rakyat berjalan beriringan dengan perahu kekuasaan.

Padahal, sejatinya rakyat akan mencari penghidupannya sendiri tanpa menanti harap berlebih kepada Jokowi. Sebab Jokowi gagal menjalankan amanat konstitusi dengan memastikan kemiskinan dan kesengsaraan tak hinggap ke masyarakat yang di ambang jurang.

"Jokowi atas nama konstitusi dimanja dan dilayani bak raja-raja. Namun ia gagal memaknai manusia yang semestinya membuat Jokowi merawat, memanjakan, dan melayani manusia lain".

Kemiskinan dan kesengsaraan merupakan musuh yang dihindari bahkan dilawan masyarakat. Bagi Jokowi, kemiskinan hanya tontonan imajiner karena dibenturkan dengan statistik capaian yang tak relevan dengan kondisi riil masyarakat.

Baca Juga: Relawan Jokowi Siap Dukung Gibran hingga Kaesang

Sekali lagi, merawat manusia menjadi tanggung jawab Jokowi. Menagih kinerja Jokowi bukan pelanggaran, sebab Jokowi lah yang melakukan pembiaran dan pelanggaran jika tak memenuhi tanggung jawabnya sebagai presiden yang memanjakan, melayani, hingga memastikan rakyatnya jauh dari jerat kemiskinan dan kesengsaraan.

Setidaknya pada Oktober 2024, Jokowi mungkin akan sulit memahami kesengsaraan dan kemiskinan. Meski akan menjadi rakyat biasa, Jokowi masih mendapatkan keistimewaan atas nama konstitusi dengan menikmati kemewahan, kemegahan, dan penghormatan. Fasilitas dan beragam instrumen kemewahan akan melekat, bahkan keamananpun terjamin.

"Maka berbahagialah Jokowi sebagai manusia yang diberikan keistimewaan hidup, meski ia sulit memahami rasa yang dinikmati manusia lain yang berjuang tanpa dibantu pemimpinnya bangkit dari kemiskinan dan kesengsaraan," (Safarian Shah Zulkarnaen)

[Selanjutnya: Memaafkan Presiden Joko Widodo (3)]

Editor
Komentar
Banner
Banner