Pemilu 2024

Pemilu 2024 Diyakini Takkan Lahirkan Polarisasi Ekstrem!

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani menilai Pemilu 2024 takkan melahirkan konflik politik yang parah dibandingkan dengan tahun 2014 dan 2019.

Featured-Image
Pemerintah Administasi Jakarta Barat bersama Polres Metro Jakarta Barat melakukan latihan dan simulasi gabungan untuk mengantisipasi kerusuhan masa menjelang Pemilu tahun 2024. Foto : Humas Polres Jakbar

bakabar.com, JAKARTA - Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani menilai Pemilu 2024 takkan melahirkan konflik politik yang parah dibandingkan dengan tahun 2014 dan 2019.

"Polarisasi yang ekstrem hampir tidak ada. Apalagi pada pemilu legislatif, relatif tidak menghasilkan konflik di level akar rumput," ujar Riza, Senin (30/10).

Baca Juga: Jelang Pemilu 2024, Kapolri Minta Semua Pihak Jaga Politik Bermartabat

Riza menerangkan polarisasi serta konflik horizontal maupun vertikal pada Pemilu 2024 kemungkinan besar tidak akan sedahsyat dua pemilu sebelumnya.

Kecilnya potensi konflik, menurut dia, antara lain disebabkan semakin meningkatnya literasi masyarakat terhadap teknologi dan media digital sehingga lebih bisa memilah informasi yang mereka peroleh melalui media sosial.

Berbeda dengan pemilu sebelumnya, menurut dia, euforia masyarakat terhadap digitalisasi saat ini sudah cukup stabil.

Baca Juga: Kuatkan Legitimasi, Mahfud MD Minta Rakyat Tidak Golput di Pemilu 2024

Senada, Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan UGM Abdul Gaffar Karim juga mengungkapkan pada pemilu tahun 2014 dan 2019, pertarungan dukungan dan polarisasi mulai tampak memanas jauh hari sebelum pemilu berlangsung.

"Sekarang tidak seperti itu. Jadi mungkin akan lebih tenang dibandingkan tahun 2014," kata Gaffar.

Ia mengakui munculnya isu politik dinasti dan berbagai isu lainnya membuat sorotan publik terhadap negara cukup kuat.

Namun demikian, ia memandang potensi konflik vertikal antara negara dengan masyarakat pun relatif kecil, terutama jika melihat gejala yang terjadi beberapa tahun belakangan.

Menurut dia, minimnya konflik memang perlu disyukuri, namun alasan di baliknya cukup miris karena masyarakat tidak terkonsolidasi dengan baik.

"Negara sangat terkonsolidasi, sementara masyarakat tidak terkonsolidasi. Ada konflik kecil di ranah elite tetapi mereka selalu cepat menemukan cara untuk rekonsiliasi dan dengan cepat menegosiasi," kata dia.

Editor


Komentar
Banner
Banner