Kunjungan Wisata

Karhutla Gunung Bromo Tuntas, Kunjungan Wisata Belum Pulih

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memaparkan kunjungan wisatawan tak kunjung pulih meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah ber

Featured-Image
Kawasan wisata TNBTS pasca karhutla, vegetasi mulai menghijau. Foto: apahabar.com/David Firmansyah

bakabar.com, JAKARTA - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memaparkan kunjungan wisatawan tak kunjung pulih meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah berhasil dituntaskan.

Tercatat, okupansi atau tingkat kedatangan wisatawan di kawasan Gunung Bromo hanya berkisar 40-60 persen dari total kuota yang disiapkan selama sebulan.

"Sekitar satu bulan pasca-dibukanya kawasan Bromo setelah kebakaran, okupansi wisata sekitar 40-60 persen. Itu untuk hari-hari biasa," kata Kepala Bagian Tata Usaha BB TNBTS, Septi Eka Wardhani seperti dilansir Antara, Kamis (19/10).

Baca Juga: Sebulan Pasca Karhutla, Kawasan Gunung Bromo Mulai Menghijau

Okupansi tersebut tidak setara dengan kuota yang telah disiapkan saat ini berjumlah 2.700 wisatawan per hari. Jumlah tersebut masih terbilang rendah dibandingkan saat sebelum terjadi karhutla.

Meski begitu kunjungan wisatawan pada akhir pekan dinilainya mulai menunjukan perbaikan.

"Untuk akhir pekan, kunjungan cukup banyak. Tapi untuk hari biasa masih belum seperti biasanya, seperti sebelum terjadinya kebakaran hutan dan lahan," kata Septi.

Baca Juga: Karhutla Bromo Padam, Pemulihan Ekosistem Makan Waktu 5 Tahun

Adapun kondisi kawasan Gunung Bromo saat ini sudah mulai ditumbuhi vegetasi dalam bentuk tunas-tunas baru yang membuatnya mulai kembali hijau.

Namun, beberapa jenis pohon seperti cemara gunung dan lainnya perlu membutuhkan waktu lebih lama yakni sekitar 3-5 tahun untuk kembali menumbuhkannya.

Imbauan untuk Wisatawan

Kepada para wisatawan yang mengunjungi Gunung Bromo, Septi mengimbau agar dapat mematuhi seluruh prosedur dan aturan yang berlaku di kawasan. Terlebih, saat ini masih dalam masa waspada kebakaran hutan.

Imbauan tersebut juga berkaitan dengan kondisi cuaca di Gunung Semeru yang diselimuti musim kemarau.

"Mohon untuk pengunjung bisa tetap waspada, untuk tidak menimbulkan api yang mungkin bisa menyulut terjadinya kebakaran di dalam kawasan," katanya.

Baca Juga: Karhutla Padam, Wisata Gunung Bromo Jatim Kembali Dibuka

Ia juga menganjurkan kepada masyarakat yang memiliki keperluan untuk pengambilan foto prewedding dan penelitian agar dapat mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi).

"Mohon untuk bisa disampaikan juga kepada petugas yang ada di pintu masuk, sehingga nanti bisa diarahkan untuk langkah berikutnya dalam pengurusan Simaksi seperti apa," pungkasnya.

Baca Juga: Karhutla Bromo Berhasil Padam, Luas Area Terbakar Capai 500 Hektare

Sebelumnya, Balai Besar TNBTS mencatat, nilai kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu penggunaan suar atau flare mencapai Rp8,3 miliar dengan total area terdampak seluas 989 hektare. Akibat kebakaran itu, kawasan tersebut ditutup pada 6-18 September 2023.

Nilai kerugian tersebut mencakup biaya pemadaman darat kurang lebih Rp216 juta dan kerugian akibat hilangnya habitat dengan pendekatan biaya pemulihan ekosistem sebesar Rp3,26 miliar, dan kerugian akibat hilangnya jasa rekreasi hingga 14 September 2023, Rp4,87 miliar.

Kawasan taman nasional tersebut ditutup pada 6-18 September 2023 akibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan itu. Proses pemadaman dilakukan pada 6-14 September 2023, dengan mengerahkan ratusan personel gabungan.

Editor
Komentar
Banner
Banner