dokter gadungan

IDI Bagikan Tips agar Publik Tak Tertipu Dokter Gadungan

IDI memberikan tips agar masyarakat bisa mengecek status dokter. Mereka berharap agar masyakarat tak mudah tertipu dokter gadungan.

Featured-Image
Ilustrasi Dokter. Foto: Getty Images

bakabar.com, JAKARTA  - IDI memberikan tips agar masyarakat bisa mengecek status dokter. Mereka berharap agar masyakarat tak mudah tertipu dokter gadungan.

Setelah terbongkarnya kasus dokter gadungan di Surabaya dan merembet pada wilayah lainnya, istilah Dokteroid kini jati topik hangat di berbagai media.

Anggota Biro Hukum Pembinaan dan pembelaan Anggota (BHP2A) PB IDI, Dr Dewa Nyoman Sutayana, SH, MH, MARS, menjelaskan bahwa kejahatan tersebut dikenal dengan istilah Dokteroid.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan istilah Dokteroid, yang memiliki arti seseorang yang bukan dokter, namun melakukan praktek kedokteran.

"Seseorang ini bisa juga dari bidang kesehatan, seperti perawat, bidan dan farmasi, yang tidak memiliki izin untuk melakukan praktek kedokteran," kata Dr. Dewa, dikutip pada Jumat (22/9).

Dokteroid memanfaatkan penyebaran informasi mengenai kesehatan di media sosial dan internet untuk menjalankan praktik culasnya. Dan mereka bertindak seolah-olah seorang dokter.

Baca Juga: 5 Fakta Dokter Gadungan Susanto yang Sempat Beraksi di Kandangan Kalsel

Bagaimana tidak, informasi yang dirasa bermanfaat tersebut justru memberikan dampak serius bagi masyarakat lainnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Dewa menerangkan seharusnya mekanisme dalam faskes itu sangat ketat dan berlapis melalui Kredensial dan Rekredensial.

Kredensial memiliki arti upaya yang dilakukan untuk mengatur bahwa tiap pelayanan medis hanya dilakukan oleh seorang medis yang benar-benar kompeten.

Kredensial diartikan sebagai seorang dokter melakukan ketentuan akreditasi. Dan wajib melakukan verifikasi ulang setiap setahun sekali, atau biasa disebut Rekredensial.

Dalam hal ini, pihak rumah sakit wajib melakukan verifikasi kembali keabsahan bukti tersebut, dan menetapkan kewenangan klinis untuk melakukan pelayanan medis dalam lingkup spesialisasi.

Tips Untuk Masyarakat dalam Mencegah Dokteroid

Tangkap Layar dr Dewa Nyoman Sutayana, SH, MH, MARS. Foto: istimewa
Tangkap Layar dr Dewa Nyoman Sutayana, SH, MH, MARS. Foto: istimewa

Melalui konferensi pers tersebut, Dr. Dewa juga memberikan beberapa tips yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah hal tersebut terjadi di masa depan.

Masyarakat dapat dengan bebas melakukan verifikasi data mengenai dokter yang hendak di kunjungi. Melalui sumber utama yang terpercaya. Yaitu melalui https://idionline.or.id dan http://kki.go.id/cekdokter.

"Ini semua bisa dicek secara langsung, tinggal memasukkan nama dokter tersebut, dan langsung muncul datanya," kata Dr Dewa Nyoman Sutayana.

Baca Juga: Terbongkarnya Kedok Dokter Gadungan Susanto di RS Kandangan Kalsel

Melakukan optimalisasi proses kredensial dan rekredensial secara berkala (minimal setahun sekali), demi kepastian bahwa penanganan pasien hanya dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.

Masyarakat juga dapat memberitahukan jika menemukan terkait adanya praktik Dokteroid di sekitar, lalu melaporkannya melalui Ikatan Dokter Indonesia.

"Ini bisa dilaporkan ke yang terdekat, misal kantor cabang, wilayah atau pusat, nanti akan diteruskan dan ditindak lanjuti," tutup Dr. Dewa.

Editor
Komentar
Banner
Banner