Kabar Pasar

Akhir Pekan, Kekhawatiran Potensi Gagal Bayar Utang AS Lemahkan IHSG

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ditutup melemah di akibat kekhawatiran potensi gagal bayar utang Amerika Serikat (AS).

Featured-Image
IHSG pada Kamis sore ditutup naik di tengah harapan pelaku pasar bahwa laju inflasi di Amerika Serikat (AS) mulai melambat. Foto: ANTARA

bakabar.com, JAKARTA -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ditutup melemah di akibat kekhawatiran potensi gagal bayar utang Amerika Serikat (AS).

IHSG ditutup turun 48,18 poin atau 0,71 persen ke posisi 6.707,76. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut melemah 6,01 poin atau 064 persen ke posisi 934,13.

"Pelaku pasar tampaknya masih diselimuti penyelesaian kenaikan plafon utang AS," tulis tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (12/5).

Kegagalan untuk menaikkan pagu atau batas utang tentunya tidak diharapkan karena Pemerintah AS tidak boleh berada dalam posisi tidak mampu membayar semua tagihannya.

Baca Juga: Data Inflasi AS Membaik, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

Hal ini mendorong pasar cenderung wait and see karena ada penundaan pertemuan antara pemerintah dan legislator AS, yang sebelumnya dikabarkan Presiden AS Joe Biden dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS untuk membahas plafon utang yang seharusnya digelar akhir pekan ini.

Sementara itu, Tim Riset Pilarmas mengungkapkan terdapat kekhawatiran akan pemulihan ekonomi China setelah data kredit dan pinjaman di bulan April secara bulanan tidak banyak berubah.

"Tentunya ini membuat khawatir ekonomi akan mengalami tumbuh melambat," jelasnya.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih nyaman bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Baca Juga: Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed, IHSG Melemah

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor meningkat dimana sektor properti naik paling tinggi yakni 0,53 persen, yang diikuti sektor transportasi dan logistik serta sektor kesehatan masing-masing 0,33 persen dan 0,22 persen.

Sedangkan, empat sektor terkoreksi yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 1,62 persen, diikuti sektor infrastruktur dan sektor teknologi yang masing-masing minus 0,78 dan minus 0,75 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu PADA, CHIP, HAJJ, MDLN, dan BANK. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni GDST, BJBR, TAYS, ESSA, dan TRIS.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.281.545 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,51 miliar lembar saham senilai Rp9,36 triliun. Sebanyak 234 saham naik, 292 saham menurun, dan 205 tidak bergerak nilainya.

Editor
Komentar
Banner
Banner