Karhutla Indonesia

Kunjungi Kalteng, Chief USFS Kagumi Penanganan Karhutla Indonesia

Chief United States Forest Service (USFS) Randy Moore mengungkapkan pihaknya telah menandatangi kerja sama dengan KLHK.

Featured-Image
Kepala United States Forest Services Randy Moore saat diskusi 'Pretecting Our Environment: A Commitment to Present and Future Generations, do @america, Jakarta, Jumat (26/1/2024). Foto: apahabar/Jekson S

bakabar.com, JAKARTA - Chief United States Forest Service (USFS) Randy Moore mengungkapkan pihaknya telah menandatangi kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI di Jakarta, Selasa (23/1).

Kerja sama itu merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah AS dengan Indonesia terkait pertukaran teknis dan penguatan kapasitas untuk mendukung Indonesia dalam implementasi strategi FOLU Net Sink 2030.

“Indonesia merupakan negara kritis yang memainkan peran penting dalam isu FOLU Net Sink 2030 bisa diwujudkan,” ujarnya usai diskusi terkait lingkungan di @america, Pacific Place Mall, SCBD, Jumat (26/1).

Randy mengungkapkan fokus utama dari kerja sama antara dua negara tersebut adalah tentang kolaborasi pada isu global. Amerika Serikat, sangat berterima kasih telah diberi kesempatan untuk membahas sejumlah isu bersama.

Baca Juga: Kebakaran Lahan TNBTS, Pemadaman Terkendala Faktor Lingkungan

“Kedua, bagaimana kita bisa bekerja sama membahas isu global terkait pencapaian komitmen iklim global. Karena Amerika juga memiliki peran penting, bagaimana membahas perubahan iklim secara bersama-sama,” terangnya.

Terkait kolaborasi antara AS dan Indonesia, Randy membeberkan program tersebut sudah dimulai saat ini. Hanya saja ia tidak bisa menjelaskan secara detail tentang fokus program tersebut, karena hal itu merupakan domain-nya Menteri LHK Siti Nurbaya.

“Yang pasti, program tersebut merupakan aksi kolaborasi AS dan Indonesia untuk bekerja bersama,” tegasnya.

Dari sisi pemerintah AS, bekerja sama dengan Indonesia telah dilakukan dalam banyak hal. Di antaranya terkait perubahan iklim, isu keberlanjutan, juga menyangkut hal-hal yang sulit seperti emisi karbon, restorasi dan ketahanan ekosistem hingga sistem ekologi.

Baca Juga: CSIS Kritik Gibran: Program B35-B40 Berpotensi Merusak Lingkungan!

“Kalau dilihat misalnya terkait emisi karbon, seluruh dunia menghadapinya. Itu sebabnya semua pihak harus berkerja sama membahas hal ini,” paparnya.

Randy menambahkan, “Bagaimana membahas isu karbon ini secara signifikan, karena itulah kami memulai kerja sama antar-negara ini.”

Sementara terkait dengan konsep forest city yang diusung oleh ibu kota negara (IKN) Nusantara di Pulau Kalimantan yang merupakan kawasan gambut, Randy menilai pemerintah Indonesia sudah memikirkan hal itu secara matang.

Randy mengingatkan, potensi kebakaran di lahan gambut sangat mungkin terjadi. Musim kering yang berkepanjangan hingga pola pertanian berpindah, salah satu penyebabnya.

Baca Juga: Marak Kebakaran Lahan, Bupati Bogor Larang Warga Bakar Sampah

“Ketika disana saya sangat beruntung karena bisa menyaksikan kawasan gambut dari dekat. Saya bisa menyaksikan air yang dangkal. Tapi saya mendapat informasi ketika kebakaran pernah terjadi disana dan saya tidak bisa membayangkannya,” paparnya.

Indonesia, tegas Randy, memiliki kemampuan yang luar biasa dan layak diapresiasi terkait penanggulangan kebakaran lahan. Pemerintah AS sangat takjub dengan kerja-kerja yang dilakukan Indonesia.

Khusus terkait lokasi-lokasi yang akan menjadi proyek percontohan dari program kerja sama antara Indonesia dan AS, sepenuhnya diserahkan kepada Indonesia. Selama hal itu memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan dan masyarakat, pihak AS sangat mendukung.

“MoU hanya untuk mendukung implementasi target penyerapan karbon bersih di sektor kehutanan dan penggunaan lahan atau FoLU Net Sink pada 2030. Kerja sama itu juga menandakan komitmen kedua negara dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Hal-hal diluar itu saya tidak bisa menjawab,” paparnya.

Baca Juga: Kebijakan Bioenergi Berbasis Hutan, Pegiat Lingkungan: Kaji Ulang

Hal penting lainnya, seperti terkait anggaran, Randy tidak secara spesifik menjelaskannya. Ia hanya memaparkan bahwa pihak AS bisa menggunakan sejumlah sumberdaya untuk mewujudkan kerja sama tersebut.

“Tidak hanya bujet, tetapi juga technical assistant, saran-saran juga hal-hal lainnya yang menunjang kolaborasi antara AS dan Indonesia”

Randy mengungkapkan, anggaran memang penting untuk menjalankan program kerja sama antara dua negara, namun uang bukanlah segalanya. Keberadaan ahli-ahli juga merupakan kebutuhan yang bisa disediakan oleh pemerintah AS.

“Saya menemukan jika Indonesia memiliki banyak ahli terkait teknis. Hal itu sangat berkesan pada saya untuk melihat komitmen dan hal-hal teknikal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan strategi sektor kehutanan dan penggunaan lahan,” terangnya.

Baca Juga: Izin Merintis, Warga Samarinda Hilang di Hutan

Lebih jauh Randy membeberkan, perjalanannya ke sejumlah tempat dalam seminggu terakhir telah memberi penharuh besar. Indonesia telah memberikan pengalaman-pengalaman terbaik, dan Amerika siap berbagi pengetahuan terbaiknya untuk Indonesia.

Selama di Kalimantan Tengah, Randy Moore menyaksikan langsung kisah sukses dari lapangan yang dilakukan oleh Lembaga Pemerintah Hutan Desa (LPHD) Tuwung di Kabupaten Pulang Pisau, dan kawasan TN Sebangau.

Di LPHD Tuwung, Randi mendengar kisah sukses tentang lokasi yang dulunya sering terjadi kebakaran hutan dan lahan, kini berubah menjadi desa yang produktif.

Sementara di TN Sebangau, Randy menyaksikan salah satu kawasan pelestarian rawa gambut terbesar di Indonesia.

Sesuai Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, TN Sebangau memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara lestari.

Baca Juga: 4 Bank Terbesar di Indonesia Berkontribusi Merusak Hutan

“Salah satu yang berkesan bagi saya adalah komunitas yang mampu memanfaatkan sejumlah hal yang ada di lingkungannya. Secara berkelanjutan mereka menghasilkan produk yang ramah lingkungan,” ujar Randy.

Hal lain yang paling menarik perhatian Randy adalah budidaya lebah madu Kelulut. “Saya sebelumnya belum pernah melihat budidaya lebah yang disebut masyarakat sangat bersahabat. Dan rasa madunya sangat enak,” tandasnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner