Banjarmasin Hits

Film Jadi Senjata Baru Kampanye Antikorupsi, Sasar Generasi Muda di Banjarmasin

Forum Sineas Banua (FSB) di Wetland Square, Kota Banjarmasin. Mereka memutar empat film pendek bertema antikorupsi.

Featured-Image
Forum Sineas Banua (FSB) di Wetland Square, Kota Banjarmasin. Mereka memutar empat film pendek bertema antikorupsi. Foto: Istimewa

bakabar.com, BANJARMASIN – Kampanye antikorupsi kini tampil dengan wajah baru. Tak lagi melulu lewat ceramah formal, pendekatan kreatif melalui film mulai digaungkan untuk menyasar generasi muda.

Forum Sineas Banua (FSB) menggelar pemutaran empat film pendek bertema antikorupsi di Wetland Square, Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi, dengan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketua FSB, Munir Shadikin, mengungkapkan film-film tersebut mengangkat praktik korupsi yang kerap dianggap sepele, namun sejatinya menjadi akar persoalan besar.

“Banyak pelajar dan mahasiswa belum sadar bahwa hal kecil seperti itu sudah termasuk bibit korupsi,” ujarnya.

Contoh yang diangkat pun terasa akrab, mulai dari penyalahgunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi hingga praktik kolusi dan nepotisme demi menembus sistem zonasi sekolah.

Munir menilai film menjadi medium efektif untuk menyampaikan pesan tanpa terkesan menggurui. Narasi yang dibangun mampu menyentuh emosi sekaligus menggugah kesadaran.

“Lewat film, pesan lebih mudah diterima dan bisa membangun empati,” jelasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) Movie Day 2026 yang digelar bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kalimantan Selatan menjadi salah satu dari 12 titik pelaksanaan secara nasional, sekaligus satu-satunya di wilayah ini yang menggandeng FSB sebagai mitra lokal.

Tak hanya pemutaran film, acara juga diramaikan diskusi interaktif yang melibatkan komunitas film, akademisi, hingga pegiat antikorupsi.

Program ini juga menyasar lingkungan pendidikan, seperti GIBS Boarding School di Barito Kuala dan Pondok Pesantren Al-Falah di Banjarbaru.

Melalui pendekatan kreatif ini, semangat antikorupsi diharapkan tumbuh sejak dini—berawal dari kesadaran akan hal-hal kecil yang kerap luput, namun berdampak besar.

Editor


Comment
Banner
Banner