Sektor Manufaktur Indonesia

Ekspansi Manufaktur RI, BKF Kemenkeu: Diikuti Penyerapan Tenaga Kerja

Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan ekspansi sektor manufaktur tercermin pada penyerapan tenaga kerja yang merupakan terbaik selama 6 bulan.

Featured-Image
Arsip foto - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu saat ditemui di DPR RI di Jakarta, Selasa (30/5/2023). Foto: ANTARA

bakabar.com, JAKARTA - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan ekspansi sektor manufaktur Indonesia utamanya tercermin pada tingkat penyerapan tenaga kerja yang merupakan capaian terbaik selama enam bulan terakhir, di level 50,6 pada Mei 2023.

Adapun sektor manufaktur Indonesia secara konsisten mengalami ekspansi dalam 21 bulan berturut-turut pada Mei 2023, yaitu dengan mencatatkan Purchasing Managers’ Index (PMI) di level 50,3. Ekspansi aktivitas manufaktur didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi serta aktivitas pembelian input.

“PMI manufaktur yang masih ekspansif dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang lebih baik, mencerminkan resiliensi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global yang masih berlanjut," ujar Febrio dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (6/6).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pelaku usaha tampaknya mulai mengantisipasi transmisi dampak perlambatan ekonomi global ke domestik. Untuk itu, perkembangan pertumbuhan permintaan domestik yang berkelanjutan perlu terus dijaga untuk mendukung aktivitas sektor manufaktur.

Baca Juga: Sempat Lesu, Kemenperin Yakin Ekspor Manufaktur Kembali Meningkat

Tren inflasi yang terus membaik perlu terus dijaga untuk mendukung daya beli masyarakat. Pemerintah juga akan terus mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi global serta menjaga optimisme dunia usaha.

Di kawasan ASEAN, Febrio membeberkan data PMI manufaktur menunjukkan tren yang beragam. PMI manufaktur Thailand dan Myanmar masih berada di zona ekspansi meski mulai menunjukkan tren perlambatan.

Sementara itu, PMI manufaktur Malaysia dan Vietnam di bulan Mei 2023 masih berada di zona kontraksi, masing-masing di level 47,8 dan 45,3, sejalan dengan tren PMI manufaktur global.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan laju aktivitas industri manufaktur pada bulan lalu didukung oleh produktivitas yang masih berjalan karena pasokan bahan baku terjaga.

Baca Juga: Indeks Manufaktur New York Terkontraksi, Rupiah Menguat

“Kita harus bersyukur karena kondisi industri manufaktur tetap berada di level ekspansi selama 21 bulan berturut-turut. Meskipun terjadi perlambatan lajunya dibanding bulan lalu, tetapi untuk kondisi permintaan baru dan lapangan kerja masih cukup baik,” kata Agus Gumiwang dalam keterangan di Jakarta, Senin (5/6).

Guna mengembalikan kinerja industri manufaktur nasional, Menperin menegaskan pihaknya fokus untuk menjalankan kebijakan pengoptimalan terhadap produk lokal melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Editor
Komentar
Banner
Banner