Steward Pertandingan

Belajar dari Tragedi Kanjuruhan, Pengamat Sepak Bola: Perlunya Pendidikan Khusus bagi Steward

Analis sepak bola lokal sekaligus presenter olahraga, Adi Yani, mengungkapkan bahwa pertandingan yang mendatangkan banyak penonton diperlukan kesiapan.

Featured-Image
Agar saat menonton sepak bola terasa nyaman dan aman, diperlukan steward atau penjaga keamanan. (Foto: dok. Getty Images/Matthias Hangst)

bakabar.com, JAKARTA – Analis sepak bola lokal sekaligus presenter olahraga, Adi Yani, mengungkapkan bahwa pertandingan yang mendatangkan banyak penonton diperlukan kesiapan dan pengamanan dari seluruh panitia di stadion, terutama bagi steward pertandingan atau petugas di lapangan.

“Belajar dari tragedi di Kanjuruhan, pertandingan yang menyangkut kenyamanan dan keamanan begitu banyak orang ini tugas tidak mudah, karena harus ada pembelajaran khususnya bagi steward-steward,” terang Adi kepada bakabar.com, Minggu (2/10).

Ia menjelaskan, Steward bertugas sebagai orang yang berdiri dengan mengarahkan pandangan fokus ke penonton alias membelakangi lapangan.

Baca: Analis Sepak Bola Adi Yani Sebut 3 Faktor Utama Penyebab Tragedi di Stadion Kanjuruhan

Menurutnya, selain pembelajaran khusus bagi steward, untuk anggota polisi yang menjaga keamanan dan ketertiban, ketika situasi memanas juga harus ada penanganan yang terstruktur bukan membuat suasana panik dan kacau.

Steward lagi-lagi akan sangat cape, mereka akan sangat tertekan tapi mereka harus diberikan pendidikan pengetahuan yang jelas tentang crowd control dan bagaimana bisa mengidentifikasi beberapa kendala semua keadaan di tribun,” jelas Adi.

Adi menambahkan, harus ada alur yang jelas untuk kenyamanan dan keamanan karena semua kejadian seperti yang tidak diinginkan bisa terhindarkan jika semuanya bekerjasama dalam satu komponen yang sempurna.

Lebih lanjut, tugas steward untuk mengawasi penonton datang sampai keluar meninggalkan stadion harus tertata sedemikian rupa dengan rapih dengan pola yang jelas.

Baca: Mengenal Kerajaan Kanjuruhan yang Namanya Dipakai untuk Stadion Sepak Bola di Malang

Tragedi Kanjuruhan berawal dari para suporter Arema FC berupaya mencari pemain dengan turun ke lapangan untuk mengungkapkan rasa kecewa atas kekalahan tim kesayangannya di kandang sendiri.

Melihat kondisi itu, aparat keamanan lantas melepaskan gas air mata dalam upaya melakukan pencegahan agar para suporter tidak mengejar pemain dan tim, serta untuk membubarkan para suporter malah mengakibatkan ratusan orang meninggal.

"Kejadian tersebut dapat diminimalisir dengan kesigapan para steward dalam melihat reaksi penonton ketika dalam keadaan di luar dugaan atau dalam keadaan panik, bahkan ada tekanan maka dengan sigap membuka pintu-pintu keluar," imbuhnya.

Baca: Tragedi Berdarah Kanjuruhan, Ombudsman Deteksi Potensi Maladministrasi Panpel PT LIB & Polisi

Karena, kata Adi, orang yang panik akan berlari menuju pintu-pintu keluar yang seharusnya ketika laga sudah hampir selesai semua exit door harus dibuka.

“Memang kalau terjadi keadaan yang sangat tidak diinginkan dalam keadaan penuh sesak dengan exit yang minim ini yang membuat semua menjadi runyam harusnya bisa terhindari apabila persiapannya lebih matang,” tukasnya.

Selain itu, perlu dipikirkan juga dari penjualan tiket, identitas yang duduk sesuai dengan yang memiliki tiket, kemudian ada foto identifikasi ketika masuk ke stadion, menjadi syarat utama memasukkan begitu banyak penonton ketempat berkumpul bersama tanpa tahu apa yang akan terjadi yang diluar rencana maka bisa diidentifikasi satu persatu.

“Kita bisa cari orang yang buat onar maka ada hukuman untuk orang yang datang ke stadion membuat masalah mereka akan di banned untuk satu musim atau seumur hidup itu dari identifikasi yang jelas ini juga masih menjadi kendala,” tutupnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner