bakabar.com, SEMARANG - Wayang merupakan warisan budaya Nusantara. Sudah ada sejak lampau sebagai gambaran peradaban asli Nusantara.
Banyak sejarawan yang mengatakan bahwa wayang sendiri sudah muncul jauh sebelum peradaban Hindu Budha. Sayangnya, pagelaran wayang kini makin tersingkirkan karena dianggap tak relevan dengan pergerakan zaman.
Abdullah Ibnu Thalhah, kartunis dan seniman asal Semarang mengatakan bahwa wayang merupakan satuan capaian teknologi yang diciptakan oleh para leluhur asli Nusantara. Saat itu, wayang diperuntukan sebagai media komunikasi bagi mereka.
Ibnu berujar, upaya untuk merawat dan merevitalisasi fungsi wayang agar tidak ditinggalkan harus terus dilakukan jika tak ingin kesenian wayang punah. Ini, katanya, harus terus dilakukan, salah satunya dengan menggunakan berbagai elemen seni dan teknologi mutakhir.
Baca Juga: Wayang Suluh, Pagelaran Wayang tentang Kemerdekaan Indonesia
"Sekarang ini upaya untuk memajukan seni wayang Nusantara dengan media apa saja yang relevan. Mulai dari dwimatra (2D), trimatra (3D), sampai multimedia itu sebuah keniscayaan, jadi memang para pelaku seni harus mulai ke sana," katanya kepada bakabar.com belum lama ini.
Ibnu mengatakan para pemangku atau pengiat seni agar mampu membuat kreasi baru atau bentuk-bentuk wayang dengan pendekatan media yang beragam.
"Kemudian para pemangku seni dituntut kreativitas yang lebih guna menjawab tuntutan ini," ucapnya.

Sekarang zaman berubah, generasi berubah. Orang tidak cukup dengan media tersebut," sambungnya.
Ibnu memberikan contoh pada disebuah pameran yang ada di Semarang. Ia memuji kreativitas yang luar biasa dari kolaborasi para seniman dalam pengembangan seni wayang multimedia dalam bentuk animasi.
Ibnu mengatakan, mereka semua berkolaborasi membuat satu karya yang baru. Tanggapan bahwa wayang itu kaku dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan tua dibantahkan oleh para seniman tersebut.
Sebab dengan adanya pengembangan di bidang multimedia, itu juga menjadi salah satu perwujudan dari konteks peradaban masa sekarang.
Dunia berkembang, kebutuhan masyarakat terhadap ekspresi yang estetik itu juga terus berkembang pula.
"Jika sebuah tradisi, terus karya seni itu dianggap sudah tidak relevan dia akan ditinggalkan oleh masyarakat," pungkasnya.