Borneo Hits

Debat Panas Tamliha vs Saidi Soal Akses Jalan ke Paramasan Banjar

Sesi tanya jawab antar pasangan calon (paslon) pada debat terakhir Pilkada 2024 Kabupaten Banjar berlangsung panas, hingga mengarah kepada kesukuan.

Featured-Image
Debat terakhir Paslon Pilkada 2024 yang digelar KPU Banjar di Ballroom Grand Qin Banjarbaru sempat berlangsung panas, Jumat (22/11) malam. Foto: bakabar.com/Hendra Lianor

bakabar.com, MARTAPURA - Sesi tanya jawab antar pasangan calon (paslon) dalam debat terakhir Pilkada Banjar 2024 berlangsung panas, hingga mengarah kepada kesukuan, Jumat (22/11) malam.

Awalnya paslon nomor urut 2 Syaifullah Tamliha-Habib Ahmad Bahasyim diberi kesempatan oleh moderator untuk bertanya kepada paslon nomor urut 1 Saidi Mansyur-Said Idrus.

Pertanyaannya bertema inovasi daerah untuk mengakselerasi pembangunan Banjar dalam melayani masyarakat.

Syaifullah menjawab salah satu upaya meningkatkan daya saing adalah membangun infrastruktur. Kemudian dicontohkan kondisi Kecamatan Paramasan yang masih menjadi wilayah terisolir.

"Kalau mau ke Pamarasan, harus melalui wilayah Tapin atau Hulu Sungai Selatan. Sementara kalau melalui Sungai Pinang, tidak tersedia akses. Pertanyaannya apakah Paramasan termasuk wilayah Banjar," tanya Syaifullah.

"Kebetulan sebelum ulun (saya) mendaftar (di pilkada), para pambakal (Paramasan) datang memberikan apresiasi, mengucapkan terimakasih infrastruktur diperbaiki," jawab Saidi.

Padahal, kata Saidi melanjutkan, secara politik dia kalah di Paramasan saat Pilkada 2020. Saidi bilang, ketika berbicara pembangunan tentu perlu waktu dan proses.

"Saat ini kami sudah meningkatkan jalan mantap sampai 75 persen, ini perlu komitmen besar, apalagi setelah melalui masa pandemi (Covid-19) di awal kepemimpinan kami," tukas Saidi.

Kemudian Syaifullah menanggapi jawaban Saidi dan menyebut jalan menuju Paramasan melalui Sungai Pinang penuh lumpur.

"Coba berkunjung ke Paramasan, tidak perlu ada perbedaan suku menyebabkan perbedaan pelayanan," ketus Syaifullah.

Saidi lantas menjawab, bahwa sebagai pemimpin mesti menjaga kesatuan dan persatuan. Menurutnya, tidak elok jika menginggung soal kesukuan.

"Tadi sudah kami sampaikan, tokoh adatnya saja menyampaikan terima kasih kepada kami, berarti kan ada infrastruktur di sana. Berarti yang tidak pernah ke sana siapa, mungkin Pak Syaiful," jawab Saidi.

Saidi bilang, selama menjabat bupati ia dengan jajaran pemerintah kecamatan dan desa selalu intens menjalin komunikasi, dan sama-sama berkomitmen untuk pembangunan yang berkeadilan. 

"Tadi sudah (menyerang) personal, kali ini kesukuan. Menjaga persatuan keumatan itu perlu sebagai pemimpin. Pada momen debat ini, perlu jadi koreksi juga bagi KPU, jangan sampai ada (menyerang) personal maupun suku," tutup Saidi.

Editor


Komentar
Banner
Banner