bakabar.com, JAKARTA - Modal usaha adalah elemen terpenting dalam menjalankan suatu bisnis. Karena sifatnya krusial, setiap pelaku usaha butuh perhitungan yang benar-benar matang sejak awal.
Akan dipakai apa saja modal tersebut nantinya, tentu harus sesuai dengan rencana keuangan tadi.
Semua demi kelangsungan bisnis agar tetap stabil, bahkan mengalami peningkatan dari segi untung.Kenyataannya, sebagian besar pengusaha pemula ataupun pro mampu menjadi pengusaha sukses dengan terlebih dahulu berutang.
Pinjaman dari bank itu digunakan tak lain untuk mengoptimalkan kegiatan bisnis, sehingga pengusaha bisa memperoleh keuntungan. Itulah yang disebut utang produktif.
Dengan adanya utang tersebut, otomatis membuat kewajiban finansial semakin bertambah. Sembari terus berjuang menjalankan bisnis, Anda juga perlu lebih ketat mengatur arus kas untuk menyicil angsuran dari utang tersebut setiap bulannya.
Beda Utang Produktif dan Utang KonsumtifJika utang produktif digunakan sebagai modal usaha, lain halnya dengan utang konsumtif.
Tujuan utang konsumtif lebih mengarah pada kebutuhan konsumsi pribadi. Salah satunya adalah pembelian gadget seperti ponsel pintar.
Gadget adalah barang yang terkena depresiasi alias penurunan nilai jual. Saat beli, harganya mungkin Rp 5 juta. Tapi tahun depan harganya bisa jadi merosot jadi Rp 4 juta.
Meski begitu, utang konsumtif ini bisa berubah produktif ketika gadget turut dimanfaatkan untuk sarana komunikasi dalam berbisnis.
Baca Juga:Kurangi Impor, Pertamina Lirik Minyak Sawit
Hadirnya penghasilan tambahan dari aktivitas tersebut menandakan utang yang diambil bukanlah konsumtif. Kelola Modal Usaha dari Utang dengan Cara Ini Banyak orang alergi dengan utang.
Mereka khawatir tidak dapat hidup dengan tenang dan nyaman jika memiliki utang. Terlebih dalam menjalankan bisnis, terkadang ada saja masanya pemasukan mengalami fluktualitas.
Namun di samping itu, tak selamanya modal usaha dari utang akan 'mencekik' Anda. Lalu bagaimana cara mengelolanya secara efektif? Berikut ini beberapa trik jitunya yang dilansir okezone melalui CekAja.com:
1. Pilih jenis utang yang tepat

Ilustrasi. Foto-Harian Nasional
Jauh sebelum memutuskan untuk berutang demi modal usaha, pastikan Anda telat memilih jenis utang paling tepat. Sebab, pemilihan jenis hutang yang tidak tepat akan menimbulkan beragam risiko.
Pada dasarnya ada dua jenis hutang, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Utang jangka panjang lebih diminati oleh para pelaku bisnis, karena pertimbangan goal yang harus dicapai dalam waktu lama.
Tenggat waktu pembayaran atau jatuh tempo utang jangka panjang bisa mencapai satu periode akuntansi, yakni satu tahun lebih. Pelunasan hutang jangka panjang umumnya dibayar dengan aktiva tidak lancar.
Baca Juga:Bank Kalsel tak Kesampingkan UMKM
Contoh dari aktiva tidak tetap adalah segala macam aset perusahaan seperti saham. Sementara bila memilih utang jangka pendek, tentu saja akan merepotkan Anda dalam hal pelunasan yang harus dipenuhi lebih cepat.
Selain itu, Anda juga tidak perlu gegabah memilih bank. Ada beberapa hal yang perlu jadi pertimbangan saat mengajukan pinjaman, seperti bunga yang tidak terlalu besar dan tenor yang panjang.
Anda bisa membandingkan produk pinjaman antara bank satu dengan yang lainnya melalui marketplace produk keuangan pertama di Indonesia, CekAja.com.
Pinjaman dari bank telah Anda dapat, jangan lantas terlena. Tagihan akan terus menghampiri setiap bulannya.
Namun jangan pula kalut, karena kunci dari mengelola modal yang berasal dari utang adalah hanya dengan disiplin membayar cicilan.
Buat jadwal pembayaran utang, sehingga Anda sudah bisa mempersiapkannya lebih awal. Bila perlu bayar cicilan tersebut sebelum tanggal tempo.
Kontrol keuangan agar tidak sekali pun menunggak cicilan. Karena sekali saja menunggak akan dikenakan menambah bunga yang cukup besar di bulan berikutnya.
Motiviasilah diri sendiri, bahwa semakin cepat hutang-hutang terlunasi maka tentu akan semakin cepat pula Anda bebas dari beban finansial yang ada.
2. Menambah aset

Ilustrasi aset. Foto-hariansuara.com
Berhutang saat membangun suatu bisnis juga tidak akan menjadi masalah, jika pada akhirnya Anda bisa menambah aset sebanyak-banyaknya dari situ.
Sebagai simulasi, Anda mengajukan pinjaman Rp 25 juta dengan tenor 12 bulan dan bunga 0 persen.
Pinjaman digunakan untuk memulai suatu usaha butik dan pelunasan utang dilakukan dengan cara dicicil sebesar Rp2 juta per bulan. Asumsikan Anda mampu menghasilkan omset Rp1 juta per hari alias Rp30 juta per bulan.
Baca Juga:Melaju di Zona Hijau, Rupiah Menguat Lagi
Dengan biaya operasional sebesar Rp25 juta per bulan, Anda memiliki laba bersih sebesar Rp5 juta per bulan.
Anda dapat menggunakan laba bersih untuk melunasi cicilan utang setiap bulan, sehingga sisa bersih yang dapat Anda ambil adalah Rp3 juta.
Nah melalui keuntungan tersebut, apabila rutin nantinya Anda jadi bisa menambah aset usaha maupun aset pribadi.
Sekalipun modal yang diperoleh awalnya dari utang, tapi jelas tidak sia-sia karena hasilnya lebih memuaskan.
3. Perhatikan rasio keuangan

Ilustrasi Rasio Keuangan. Foto-Net
Dalam mengajukan pinjaman sebagai modal usaha, umumnya baru bisa dipenuhi jika calon debitur memiliki rasio utang terhadap pendapatan yang cukup baik. Idealnya, rasio utang tersebut adalah sejumlah 30 persen dari total penghasilan.
Maka dari itu, jaga rasio utang ini agar tidak melampaui batas seharusnya. Tahan hasrat untuk menambah utang lagi, sekalipun nominalnya kecil atau bersifat pribadi.
Dengan selalu konsisten menjaga rasio utang dan pendapatan di angka ini, dan membayar cicilan dengan teratur juga bisa berdampak pada skor kredit Anda di SLIK yang menjadi baik dan bebas dari blacklist.
Baca Juga:Ekonomi Kalimantan Selatan Bakal Tak Sehat Jika Terus Bergantung Batu Bara
Modal usaha yang berasal dari utang ibarat oase di padang pasir. Terlihat indah dari kejauhan, tetapi bila didekati mungkin tak seindah itu.
Utang dalam berbisnis adalah hal yang wajar-wajar saja terjadi. Meskipun begitu, perlu juga diperhatikan agar jangan sampai membuat kondisi finansial bisnis malah memburuk.
Jadi, bijaksanalah dalam mengatur utang ini. Hindari menggunakan pinjaman modal bank untuk bisnis yang belum pasti potensinya, karena masih ada kewajiban Anda untuk mengembalikannya lewat cicilan utang.
Editor: Syarif