Teka-Teki Kepala Demang Lehman

Titik Terang Keturunan Demang Lehman 

Medio 2009, mantan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan NB bertekad untuk mengambil kembali tengkorak kepala Demang Lehman.

Featured-Image
Demang Lehman merupakan Panglima Perang Banjar yang sampai kini tengkorak kepalanya masih tersimpan di Museum Leiden. Foto: Koleksi Majalah KITLV

bakabar.com, JAKARTA - Upaya melacak keturunan Demang Lehman mulai menemui titik terang. Namun ada sederet aral melintang.

Medio 2009, mantan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan NB bertekad untuk mengambil kembali tengkorak kepala Demang Lehman.

Tekad tersebut datang setelah Rosehan menerima kabar dari salah seorang arkeolog asal Yogyakarta. Si arkeolog memastikan bahwa kepala sang panglima Perang Banjar masih tersimpan di salah satu museum di Belanda.

Namun 14 tahun berlalu, tak terlihat kemajuan signifikan pada upaya pemulangan tengkorak kepala syahidin pengawal Pangeran Hidayatullah, Sultan Banjar kala itu. Rosehan yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Kalsel melihat sudah saatnya pemerintah pusat ikut turun tangan.

Baca Juga: Tanggapan Sejarawan Soal Belanda Takut Kembalikan Tengkorak Demang Lehman

"Saat ini adalah momentum tepat. Keputusan harus segera diambil. Sebab, pemerintah Belanda sudah mau mengembalikan ratusan artefak bersejarah ke Indonesia," jelas Rosehan kepada bakabar.com, Selasa (11/7).

Di saat pemerintah merayakan kepulangan 1.500 artefak sejarah dari Belanda, masyarakat di Kalimantan Selatan terus menanti pengembalian kepala pahlawan mereka; Demang Lehman. Ratusan artefak dimaksud Rosehan adalah barang peninggalan Istana Kerajaan Bali yang disebut juga 'Harta Karun Lombok'.

Belanda berencana mengembalikan ribuan artefak bersejarah Indonesia itu sebagai permintaan maaf mereka terhadap dosa perbudakan mereka di masa kolonial. Sayang, tak ada nama tengkorak kepala Demang Lehman yang kini kabarnya berada di museum Leiden Belanda. 

Jika benar Belanda berniat memulangkan kepala Demang Lehman, menurut Rosehan satu hal terpenting yakni melibatkan sejumlah pihak. Terutamanya keluarga dari Demang Lehman itu sendiri.

rosehan nb
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalsel, Rosehan NB. Foto: Dok.pribadi/Rosehan.

“Pemerintah harus memberi kesempatan kepada keluarga menjadi bagian proses itu dan sebagai bentuk penghormatan. Harapannya Demang Lehman bisa dikembalikan ke Martapura,” pungkasnya.

Lantas di mana keberadaan keluarga Demang Lehman saat ini? Belum ada pihak yang bisa memastikan. Uhibbul Hudda dari Komunitas Peduli Makam Al Khairat berkata pihak keluarga Demang Lehman pun tidak mengetahuinya.

Baca Juga: [ANALISIS] Syarat Muskil Belanda Pulangkan Kepala Demang Lehman

"Kalau dari zuriah atau keturunan beliau tidak ada yang tahu makamnya," jelasnya dihubungi bakabar.com, Rabu (12/7).

Menariknya, Huda dan timnya mengaku sudah tiga kali ke rumah pihak yang diyakini merupakan keturunan Demang Lehman. Lokasinya berada Martapura, Kabupaten Banjar. "Masih bisa [ditemukan keturunan Demang Lehman] cuma masih dirahasiakan," jelasnya.

Benarkah orang tersebut adalah keturunan Demang Lehman? Huda mengaku sempat ditunjukkan sejumlah peninggalan benda bersejarah milik Demang Lehman. Semuanya masih mereka simpan dengan baik. Seperti ikat kepala atau laung dan senjata lainnya. Demikian juga dengan silsilah keluarga. 

"Tapi sampai sekarang mereka mau semua itu dirahasiakan. Mungkin masalah keselamatan dan mereka juga ingin menikmati masa tuanya dengan beribadah," jelasnya. 

Baca Juga: Kepala Demang Lehman Kembali, Belanda Bisa Hilang Muka?

Kendati begitu, Huda bersedia membantu memediasi dengan pihak keluarga Demang Lehman jika memang Belanda benar-benar serius. "Kalau memang ada keinginan pemerintah Belanda, kami bersedia membantu jalan yang terbaik buat mediasi ke mereka," jelasnya.

Tepat 27 Februari 1864, setelah serangkaian perlawanan yang melibatkan pengkhianatan dari rakyatnya sendiri, Demang Lehman yang memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya digantung oleh tentara Belanda. Kepalanya dibawa ke Belanda, sedang sisa tubuhnya masih belum diketahui. 

Huda tak menampik kebencian di masyarakat Banjar kepada Belanda yang memenggal kepala Demang Lehman masih mengakar luas. Terlebih sikap Belanda yang dulu mengangggap para pejuang Banjar itu adalah pemberontak. Selain mengembalikan tengkorak, menurutnya Belanda juga harus meminta maaf soal hal ini. 

Baca Juga: Peliknya Mengungkap Silsilah Demang Lehman kala Belanda Minta DNA

"Apa yang diberontak kan wajar, para pejuang Banjar dulu memberontak para penjajah karena ingin mempertahankan tanah airnya sendiri," jelasnya

Namun ia meyakini semua kebencian itu akan pudar jika Belanda benar-benar berniat mengembalikan tengkorak Demang Lehman. "Siapa tahu pihak zuriahnya bisa melunak hatinya jika kepala tersebut benar akan dipulangkan dan dimakamkan secara bijak dan manusiawi," pungkasnya.

Demang Lehman
Huda saat berziarah ke makam Pangeran Abdul Kadir punakawan Pangeran Hidayatullah di Cianjur Jawa Barat. Foto: Huda untuk bakabar.com

Bagi masyarakat Banjar, kembalinya tengkorak Demang Lehman bisa menjadi penghormatan tertinggi bagi martabat mereka. Tengkorak tersebut melambangkan perjuangan melawan kekuasaan kolonial. 

Namun terdapat sederet kendala memulangkan kepala sang syahidin asal Banjar, Kalimantan Selatan tersebut. Kekinian, Belanda meminta bukti valid atau DNA dari keturunan Demang Lehman. 

Tuntutan Belanda tersebut terbilang tidak memungkinkan dan bahkan hampir mustahil dilakukan. Sedianya upaya pemulangan tengkorak pun sudah dimulai dilakukan sejak 2009 oleh Pemprov Kalsel. 

Silsilah Demang Lehman

Eksekusi Demang Lehman
Ilustrasi hukuman gantung semasa Hindia Belanda. Foto: Koleksi Museum Tropen Belanda

Dalam catatan arsip kolonial Belanda, Demang Lehman pada tahun 1862-1863 tercatat memiliki putra bernama Gusti Djadin. Pada sumber lain tertulis Demang Lehman memiliki dua istri. Istri pertama belum ada sumber yang menuliskan namanya. Sementara istri kedua bernama Ratuoe Atidja atau Ratu Atidja.

Sebelum ditangkap, dari penelusuran Mansyur, Demang Lehman dan istrinya berada di dalam pelarian di Goenong Batu Poengoel atau Gunung Batu Punggul dekat Selelau, sebuah gunung yang curam di Batulicin.

"Kalau diidentifikasi sekarang kemungkinan lokasi ini ada di wilayah Batoepangkat, Desa Sela Selilau, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan," ujar Mansyur.

Ketika blokade perjuangan Demang Lehman berlangsung beberapa hari, Demang Lehman dan istri serta empat pengikutnya turun gunung dan berangkat ke kampung Selelau, tempat dia menghuni sebuah rumah kosong. Sekarang ini memerlukan perjalanan sehari kecil dari Salelau.

"Mertua Demang Lehman bernama Pembakkal Koenoer (Pambakal Kunur) yang berdomisili di wilayah Pajukungan dan Alai," jelas sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur.

Demang Lehman
Sejarawan muda Kalsel, Mansyur. 

Lantas apakah mungkin untuk mencari keturunannya di wilayah Pajukungan dan Alai? Menurut Mansyur, ini juga cukup sulit.

"Karena kalau diurut dari tahun 1864 sejak beliau dieksekusi, setidaknya beliau pasti sudah memiliki beberapa generasi yang tersebar di wilayah Kalimantan Selatan," jelasnya.

Tak hanya soal mulai ditemukannya keturunan Demang Lehman. Teranyar, bakabar.com juga sudah mulai mendapat respons dari Kedutaan Besar Belanda.

Wakil Kepala Departemen Kebudayaan dan Komunikasi Kedubs Belanda Jaef de Boer berjanji akan memelajari pertanyaan awak media ini seputar kendala utama pemulangan kepala Demang Lehman. 

"Mohon waktunya," jelasnya kepada bakabar.com, Rabu (12/7). Sementara itu Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Hilmar Farid masih belum merespons permohonan wawancara bakabar.com.

Editor
Komentar
Banner
Banner