Persoalan Sampah

PLTSa Putri Cempo, Solusi Palsu Penyelesaian Persoalan Sampah

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah (Jateng) kritik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo di Solo.

Featured-Image
PLTSa Surakarta di TPA Putri Cempo. Foto: apahabar.com/Fernando

bakabar.com, SEMARANG - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah (Jateng) mengkritik manfaat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo di Solo.

Walhi Jateng menyebut transisi energi atau penyelesaian sampah PLTSa Putri Cempo telah menimbulkan sejumlah persoalan. Salah satunya yakni munculnya jenis polutan baru.

"Untuk konteks (PLTSa) apa yang ditutupi dari tenaga incinerator gasifikasi yang menimbulkan polutan jenis baru, seperti Amoniak dan Arsen," ujar Staf Advokasi dan Kampanye Walhi Jateng, Adetya Pramandira kepada bakabar.com, Selasa (23/1).

Baca Juga: Walhi Jateng Serukan EBT Berkeadilan Berbasis Komunitas

Baca Juga: [CEK FAKTA] Gibran Sebut Indonesia Pernah Swasembada Pangan

Ia juga menyebut adanya dugaan munculnya zat berbahaya seperti Dioksin di PLTSa. Meski begitu, ia menilai dugaan tersebut perlu diuji lebih dalam. 

"Jadi itu (PLTSa) tidak menyelesaikan satu persoalan, karena dia justru menciptakan pencemaran yang lain. Belum lagi soal hak-hak masyarakat di sekitarnya," ucap Dera sapaan akrabnya.

Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, kata Dera, PLTSa juga memberikan dampak sosial dan ekonomi secara negatif. 

"Soal pemulung yang juga itu perlu dipastikan karena banyak yang mengambil dari situ ya, itu juga perlu untuk kita pikirkan," sebutnya.

Baca Juga: Petani Muda Semakin Langka, Food Estate Alamat Gagal

Baca Juga: Aktif Singgung Krisis Iklim, Cak Imin Udah Tobat?

Sementara itu, kata Dera, seharusnya pemerintah perlu membuat kebijakan tentang pengaturan produksi plastik. Daripada melanjutkan proyek PLTSa yang kurang berkeadilan dalam mengurangi persoalan sampah. 

"Kebijakan semacam apa yang jelas untuk menanggulangi sampah-sampah yang disebabkan oleh produsen itu," ujarnya.

Maka dari itu, Walhi Jateng memberikan catatan soal bagaimana PLTSa sebagai solusi palsu. Sebab, menimbulkan polutan baru dan proyek tersebut menurutnya seperti dipaksakan.

"Jadi bagi kami alih-alih ngurusin proyek semacam itu. Mendingan fokus bagaimana meciptakan energi berbasis komunitas dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal," pungkasnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner