bakabar.com, MARABAHAN – Momentum puncak peringatan Hari Jadi ke-66 Barito Kuala (Batola) dimanfaatkan Bupati H Bahrul Ilmi untuk mencurahkan isi hati (curhat) kepada Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin.
Puncak peringatan Hari Jadi ke-66 Batola dipusatkan di Lapangan 5 Desember Marabahan, Minggu (4/1). Meski sempat dipayungi mendung, perlahan matahari mulai menyembul dan membuat acara berlangsung lancar hingga akhir.
Selain Muhidin bersama Ketua TP PKK Hj Fathul Jannah, juga berhadir Wakil Gubernur H Hasnuryadi Sulaiman dan Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) drg Hj Ellyana Trisya.
Kemudian Ketua DPRD Kalsel H Supian HK, Kapolda Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, dan sejumlah bupati/wali kota beserta undangan lain.
Dalam kesempatan tersebut, Bahrul Ilmi mengungkapkan bahwa penurunan Transfer ke Daerah (TKD) berdampak signifikan terhadap kemampuan daerah dalam memenuhi tuntutan pembangunan, khususnya sektor infrastruktur jalan.
“Total panjang jalan di Batola mencapai 782,74 kilometer. Namun jalan sepanjang 339,96 kilometer atau sekitar 43,3 persen dalam kondisi rusak berat. Kemudian rusak sedang sepanjang 84,99 kilometer atau 10,86 persen,” papar Bahrul.
Dengan keterbatasan APBD 2026, Pemkab Batola hanya mampu memperbaiki jalan sepanjang 24,4 kilometer atau setara 5,74 persen dari total kerusakan, "Tentunya kami mengharapkan bantuan dan dukungan dari Pemprov Kalsel," tambah Bahrul.
Selain persoalan infrastruktur, Bahrul Ilmi juga menyampaikan upaya Pemkab Batola dalam meningkatkan kapasitas fiskal melalui optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satu potensi yang tengah diupayakan adalah pemanfaatan sektor ekonomi di sepanjang Sungai Barito. Seperti juga pembangunan infrastruktur, upaya mendapatkan pendapatan di perairan juga membutuhkan dukungan Pemprov Kalsel.
Menanggapi curhatan Bahrul, Muhidin memastikan bahwa Pemprov Kalsel siap menampung dan menindaklanjuti masukan Pemkab Batola, terutama terkait perbaikan jalan.
“Kalau jalan dimaksud menjadi kewenangan pusat, segera ajukan bersama-sama dengan pemerintah provinsi,” ungkap Muhidin.
Muhidin juga menyinggung kondisi Jembatan Barito yang kian padat. Pemkab Batola didorong menyiapkan lahan pembangunan jembatan alternatif, lalu diajukan kepada pemerintah pusat sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Semetara terkait pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jembatan Barito, Muhidin menyarankan agar pembangunan dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah provinsi dan kabupaten, “Nanti bisa saja pengelolaan diserahkan kepada Batola,” tambahnya.
Sementara Hasnuryadi menekankan peningkatan koordinasi lintas pemerintahan. serta kewaspadaan terhadap potensi bencana akibat cuaca ekstrem.
“Barito Kuala harus lebih kreatif dalam merespons potensi dan peluang," tegas Hasnuryadi terkait posisi Batola di antara provinsi dan kabupaten lain.
"Posisi yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Tengah dan menjadi bagian Banjarbakula merupakan peluang besar untuk memperkuat konektivitas antarwilayah dan memantapkan Kalsel sebagai gerbang logistik,” imbuhnya.
Terkait pembangunan infrastruktur di Batola, Pemprov Kalsel telah menggelontorlkan anggaran sebesar Rp29 miliar untuk perbaikan Jalan Anjir Pasar–Marabahan.
Kemudian lebih dari Rp1 miliar dikucurkan untuk program perbaikan permukiman kumuh dan rumah tidak layak huni, "InsyaAllah masih tersedia anggaran lain yang akan disalurkan ke Batola," tutup Hasnuryadi.
Dalam puncak perayaan tersebut, juga diserahkan hadiah untuk desa berkinerja terbaik dan akuntabilitas keuangan desa. Desa Puntik Luar berhasil menjadi terbaik pertama dan berhak atas apresiasi senilai Rp300 juta.
Kemudian Desa Andaman II sebagai terbaik kedua dan berhak atas apresiasi Rp200 juta. Terakhir Desa Sumber Rahayu dinobatkan menjadi terbaik ketiga dan mendapatkan apresiasi sebesar Rp100 juta.









