bakabar.com, MARABAHAN - Momentum 'panen raya' ikan di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola), semestinya tidak serta-merta dianggap sebagai keberkahan.
Setidaknya dalam tiga hari terakhir, ikan sungai berbagai jenis dan ukuran mengambang ke permukaan, khususnya di kawasan perairan Kecamatan Marabahan dan Bakumpai. Pergerakan ikan-ikan ini pun tidak selincah biasanya.
Tak pelak warga beramai-ramai turun ke sungai dan melakukan penangkapan. Beberapa di antaranya menggunakan peralatan tangkap, tapi tidak sedikit pula hanya memakai tangan kosong.
"Dalam Bahasa Bakumpai, fenomena itu dikenal sebagai danum bangai. Biasanya terjadi akibat peralihan air pasang ke surut," ungkap antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Nasrullah, Minggu (26/1).
Biasanya danum bangai terjadi lebih dahulu di Kuripan atau hulu sungai dan bukan sebaliknya. Fenomena ini juga berkaitan dengan dinamika alam Danau Panggang di Hulu Sungai Utara yang berbatasan langsung dengan Kuripan.
"Namun situasi yang terjadi sejak 22 Januari 2026 ini cenderung berlebihan. Peristiwa serupa memang pernah terjadi puluhan tahun silam, tetapi berskala lebih kecil dan tidak seaneh sekarang," tukas Nasrullah.
Baca Juga: Kualitas Sungai Barito Turun Drastis, Ribuan Ikan di Marabahan Batola Mati
Baca Juga: Jutaan Ikan Mati, Nelayan Keramba di Marabahan Menjerit
"Mengingat jumlah dan ukuran ikan yang mati, Pemkab Batola seharusnya jangan cuma menonton dan membiarkan. Mereka harus memberikan penjelasan terhadap gejala alam yang mungkin menyimpan persoalan lingkungan dan kesehatan serius," imbuhnya.
Setidaknya terdapat tiga pertanyaan penting yang perlu segera dijawab dan dijelaskan secara terbuka oleh Pemkab Batola. Salah satunya mencari penyebab danum bangai.
"Apakah murni disebabkan faktor alam? Atau kemungkinan dipantik zat-zat lain yang menyebabkan kematian ikan dalam skala besar?" cecar Nasrullah.
"Kemudian apakah ikan-ikan yang mati atau ditangkap tersebut aman dikonsumsi dalam jangka pendek maupun jangka panjang, mengingat potensi akumulasi zat berbahaya dalam tubuh ikan?" imbuhnya.
Pertanyaan selanjutnya yang tidak kalah penting adalah dampak jangka panjang terhadap populasi ikan di Sungai Barito. Terlebih banyak ikan yang mati atau tertangkap justru berukuran besar dan berpotensi sebagai indukan.
"Tentunya jawaban yang diberikan bersifat ilmiah dan terukur agar masyarakat tak berada dalam ketidakpastian. Pemkab Batola bisa bekerja sama dengan akademisi yang membidangi perikanan, biologi, kimia dan sebagainya," tutup Nasrullah.









