Pameran Karikatur

Menengok Kartun Satir RUU Perampasan Aset di Bundaran HI

Ada yang menarik dari pameran karikatur di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Yakni gambar dua ekor tikus berdasi.

Featured-Image
Satire Karikatur Korupsi Manakala RUU Perampasan Aset Belum Juga Disahkan. (Foto: apahabar/Leni)

bakabar.com, JAKARTA - Ada yang menarik dari pameran karikatur di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Yakni kartun dua ekor tikus berdasi.

Gambarnya memvisualkan dua ekor tikus yang tersenyum lebar. Menikmati minuman dari cangkir mewah sembari bergoyang diiringi irama musik.

Dalam gambar itu juga ada tulisan kalimat; "Selama Undang-Undang perampasan aset belum disahkan. Aman Daahh. Tarik Mang".

Baca Juga: Unik! Ada Karikatur Politik di Bundaran HI

Kartun satir itu karya Gatot Eko Cahyono. Gambarnya menyentil RUU perampasan aset koruptor yang sampai sekarang belum juga dibahas DPR. Padahal, bisa bikin keuangan negara menjadi mapan.

"Ada apa di balik ini? Apakah DPR pro koruptor? Atau ada agenda lain dari DPR, kenapa tak kunjung mensahkan RUU perampasan aset?" sentil Gatot kepada bakabar.com, Minggu (24/9).

Dalam membuat gambar itu, Gatot menaruh sentimen kepada koruptor. Bagi dia, mereka semakin gembira lantaran RUU perampasan aset itu belum disahkan DPR.

Melalui karyanya itu, Gatot ingin menyampaikan pesan. Bahwa perampasan aset hasil tindak pidana mudah dilakukan. Asalkan RUU-nya disahkan.

"Ini bisa menjadi edukasi bersama. Bahwa karya karikatur ini bisa berfungsi sebagai media kritik sosial. Sehingga kita bisa bertambah dewasa untuk menyikapi apa yang terjadi dalam masyarakat," tuturnya.

Biar tahu saja. Pameran berlangsung tepatnya di sekitaran Pos Polisi Bundaran IH, Jakarta Pusat. Event ini digelar oleh Sespimen Polri Pendidikan Reguler (Dikreg) ke-63.

Karikatur diklaim salah satu media yang relevan untuk menyampaikan informasi. Tentu saja dalam bentuk visual.

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Sudah di DPR, Pimpinan Ngaku Tak Mudah

Perusahaan konsultan komunikasi Millward Brown punya analisa. Konten visual lebih mudah diterima Generasi Z ketimbang tulisan. Gatot sepakat.

Kata dia, masyarakat saat ini lebih tertarik melihat gambar ketimbang membaca.

"Karikatur dapat menjadi sebuauh solusi kritik sosial disaat masyarakat mengalami minim literasi," tutupnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner