Bisnis

Makin Pedas! Harga Cabai Rawit di Tapin Tembus Rp150 Ribu Per Kilogram

Harga cabai di pasar tradisional Kraton Raya terus mengalami kenaikan harga, Dinas Perdagangan Kabupaten Tapin menduga karena imbas dari kejadian Karhutla.

Featured-Image
Dinas Perdagangan Kabupaten Tapin saat melakukan update harga bapok di Pasar Kraton Raya Rantau. Foto - Disdag Tapin.

bakabar.com, RANTAU - Harga cabai di pasar tradisional Keraton Raya Rantau mengalami kenaikan harga. Bahkan harganya mencapai Rp150 per Kilogram.

Seorang pedagang di Pasar Rantau, Dinah menyebut belakang harga cabai rawit terus mengalami kenaikan, tiga hari lalu sudah di angka Rp140 ribu per Kilogram.

"Cabai rawit naik dari harga Rp100 ribu ke Rp140 ribu, sejak tiga hari lalu. Kalau cabai rawit biasa (cabai taji) dari harga Rp80 ribu, sekarang sekitar Rp120 ribu," ujarnya, Selasa (21/11).

Dinah mengaku imbas dari kenaikan harga ini berdampak terhadap daya beli masyarakat, sekarang dirasa sedikit melemah. "Ya, ada (dampak) setelah naik ada penjualan sedikit berkurang," ungkapnya. 

Sementara, Kabid Stabilitasi Sarana dan Distribusi Disdag Tapin, Rahmiati mengakui memang terdapat kenaikan harga di cabai. Yang sebelumnya hanya diharga Rp 80 ribuan per kilogram, sekarang sudah lebih dari Rp 100 ribu.

"Minggu lalu (15/11) harga cabe rawit itu di angka Rp 80 ribu, eceran Rp 90 ribu. Sekarang harga eceran tertinggi sudah mencapai Rp150 ribu," ujarnya.

Adapun untuk harga cabe besar segar dan kering masih normal yakni untuk segar Rp 70 ribu / kilogram dan cabe besar kering Rp 160 ribu / kilogram.

Penyebab Kenaikan

Kabid Stabilitasi Sarana dan Distribusi Disdag Tapin, Rahmiati mengatakan ada beberapa penyebab terjadinya kenaikan harga pada cabai rawit.

Di antaranya karena imbas dari terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Tapin yang terkena kebun petani cabai.

Pertama, karena harga beli pedagang cabe rawit dari petani naik, kedua cabe rawit dipasaran kurang karena petani cabe di Tapin terutama kekeringan sehingga tidakk bisa bertanam cabe dengan baik.

"Keterangan dari petani Cabe hiyung karena kebakaran kebun cabe yang cukup besar di Hiyung sehingga tidak bisa menghasilkan buah cabe dan tidak panen," ungkap Rahmi.

Menurut Rahmi secara pribadi, ia menyarankan terkait kenaikan harga tersebut hendaknya pemerintah daerah ikut ambil peran dalam pengelolaan, baik dari segi pertanian untuk tanaman cabe rawit, cabe merah besar, ataupun cabe hijau. Sehingga penanaman cabe di Kabupaten Tapin dapat terkordinir.

"Dan adanya kelompok atau paguyupan yang mengelola pemasaran cabe agar harga stabil. Untuk ini akan kami sampaikan kepada pak Kadis. Saat ini beliau masih TL ke luar daerah," pungkasnya.

Editor


Komentar
Banner
Banner