News

Kabut Asap Tipis Berbau Menyengat Mulai Selimuti Sampit, Warga Kurangi Aktivitas Malam

Kabut asap tipis disertai bau menyengat kini kerap turun pada sore hingga malam hari, membuat warga resah dan terganggu aktivitasnya.

Featured-Image
Kabut asap tipis disertai bau cukup menyengat tampak mulai menyelimuti kota Sampit di sore hari, salah satunya di Jalan HM Arsyad ini. Jumat (23/1/2026). Foto: Ilhamsyah Hadi/bakabar.com

bakabar.com, SAMPIT - Mulai maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi hampir sepekan terakhir mulai berdampak langsung ke Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kabut asap tipis disertai bau menyengat kini kerap turun pada sore hingga malam hari, membuat warga resah dan terganggu aktivitasnya, Jumat (23/1/2026).

Sejumlah warga mengaku kondisi tersebut sudah dirasakan sejak beberapa hari terakhir. Adit (44), warga Ketapang, mengatakan kabut asap muncul secara konsisten pada sore dan malam hari dengan aroma menyengat yang mengganggu pernapasan.

“Sudah sekitar empat hari ini, setiap sore sampai malam muncul kabut asap tipis. Baunya cukup menyengat dan sangat mengganggu pernapasan,” ujar Adit.

Menurutnya, kondisi ini berbeda dari hari-hari biasanya. Jika sebelumnya udara Sampit relatif bersih pada malam hari, kini asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan permukiman.

Keluhan serupa disampaikan Rizqi (32), warga Pelita Barat. Ia terpaksa mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam hari lantaran memiliki riwayat penyakit asma.

“Biasanya malam hari saya sering keluar cari makan atau kumpul dengan teman-teman. Tapi sejak kabut asap turun malam hari, saya kurangi aktivitas karena takut asma kambuh,” ungkapnya.

Karhutla terjadi di wilayah Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU). Lokasi terbakar cukup jauh dan sulit dijangkau oleh petugas. Jumat (23/1/2026). Foto: BPBD Kotim.
Karhutla terjadi di wilayah Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU). Lokasi terbakar cukup jauh dan sulit dijangkau oleh petugas. Jumat (23/1/2026). Foto: BPBD Kotim.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotim telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla Tahun 2026 selama 30 hari, terhitung mulai 23 Januari hingga 21 Februari 2026.

BPBD Kotim menyatakan, apabila ke depan jumlah hotspot dan kejadian kebakaran terus meningkat, status siaga darurat akan dinaikkan menjadi tanggap darurat karhutla, melalui rapat koordinasi lanjutan.

Berdasarkan data BPBD, jumlah hotspot pada Januari 2026 tercatat paling tinggi berada di Kecamatan Antang Kalang dengan total 24 titik. Kebakaran lahan juga masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim, dengan sebagian besar area terbakar merupakan lahan yang memiliki pemilik.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim, Multazam, menegaskan bahwa selain upaya pemadaman oleh petugas, peran serta masyarakat sangat penting, khususnya dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran di sekitar lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Beberapa titik kebakaran yang dilaporkan di antaranya berada di Desa Natai Baru yang sulit dijangkau petugas, berdasarkan informasi dari pihak perusahaan PT HMBP 2. Selain itu, kebakaran juga terjadi di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), dengan luas lahan terbakar sekitar 20 x 4 meter persegi.

Multazam mengimbau seluruh masyarakat Kotim untuk tetap siaga, mengingat wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau yang rawan kebakaran, baik lahan maupun permukiman.

“Saya minta masyarakat jangan membakar sampah sembarangan atau mengolah lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

Editor


Komentar
Banner
Banner