News

LPG 3 Kg Langka di Sampit, Harga Tembus Rp50 Ribu

Sejak awal memasuki bulan Ramadan, gas LPG subsidi 3 kilogram langka, bahkan harganya kini mencapai Rp40-Rp50 ribu pertabung.

Featured-Image
LPG 3 kg di Sampit langka, akibatnya harganya melambung dikisaran Rp 40-50 ribu pertabung. Foto: Net.

bakabar.com, SAMPIT – Memasuki hari-hari awal Ramadan, warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dibuat resah akibat sulitnya mendapatkan LPG subsidi 3 kilogram.

Tabung gas melon yang menjadi andalan rumah tangga kecil dan pelaku usaha mikro mendadak langka, baik di tingkat pangkalan maupun pengecer.

Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu warung ke warung lain demi memperoleh satu tabung gas. Namun, upaya tersebut kerap berujung sia-sia lantaran stok disebut sudah kosong sejak beberapa hari terakhir.

“Sudah mutar ke beberapa pangkalan dan warung, jawabannya sama, gas habis,” ujar Reni, warga Kecamatan MB Ketapang, Selasa (24/2/2026).

Kalaupun tersedia, harga jual LPG 3 kilogram melonjak tajam. Di tingkat eceran, gas bersubsidi itu dilaporkan dijual dengan harga Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per tabung.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kotim (DKUKMPP) Kotim, Johny Tangkere, menegaskan bahwa situasi ini bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan gangguan teknis di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).

Ia menjelaskan, salah satu kompresor di SPBE PT Naga Jaya Makmur di Jalan HM Arsyad Km 10 mengalami kerusakan sejak Kamis (19/2/2026). Kerusakan tersebut membuat satu nozel pengisian tidak berfungsi optimal, sementara dua nozel lainnya masih dalam proses penyegelan aparat kepolisian. Akibatnya, kapasitas pengisian sempat berkurang signifikan.

“Ini bukan kelangkaan. Barangnya ada, hanya proses pengisian dan distribusinya yang tersendat karena kerusakan alat,” tegas Johny.

Saat ini, dari total fasilitas yang tersedia, sembilan nozel pengisian telah kembali beroperasi normal. Pemerintah daerah pun optimistis distribusi LPG 3 kilogram akan berangsur lancar dalam waktu dekat.

Sebagai langkah antisipasi, sebagian agen juga mengambil pasokan dari Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Namun, upaya ini membutuhkan waktu lebih lama karena harus mengantre dan berbagi suplai dengan daerah lain.
Johny menegaskan, gangguan distribusi tidak boleh dijadikan alasan untuk menaikkan harga. Harga eceran tertinggi (HET) LPG 3 kilogram telah ditetapkan dan wajib dipatuhi.

“Kalau ada yang menjual sampai Rp40 ribu atau lebih, itu sudah kelewatan. Silakan laporkan ke kami, akan kami tindaklanjuti,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing membeli LPG dengan harga tinggi karena kondisi ini bersifat sementara. Pemerintah daerah, kata dia, akan meningkatkan pengawasan di lapangan untuk mencegah spekulan memanfaatkan situasi.

“Kalau harga naik, berarti ada yang bermain. Ini yang akan kami awasi,” tegasnya.

Editor


Komentar
Banner
Banner