Banjarmasin Hits

Hari AIDS Sedunia, Ratusan ODHIV di Banjarbaru Belum Terdeteksi

Dimomen hari AIDS se-dunia, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banjarbaru, Edi Sampana menyampaikan jika masih ada ratusan pengidap belum terdeteksi. 

Featured-Image
Salah satu penderita HIV/AIDS di Kalsel. Foto-apahabar/Syaiful Riki.

bakabar.com, BANJARBARU - Dimomen hari AIDS se-dunia, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banjarbaru, Edi Sampana menyampaikan jika masih ada ratusan pengidap belum terdeteksi. 

Sebab, berdasarkan data yang mereka pegang, pada 2020 diestimasi ada 1.021 Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Idaman. 

Dari jumlah itu yang dideteksi secara kolektif sejak 2005 sampai sekarang baru sebanyak 400 orang, termasuk 15 anak yang usianya kurang dari 15 tahun.

Lanjutnya, dari 400 orang itu, yang rutin berobat di fasilitas kesehatan Banjarbaru seperti RSD Idaman, 5 puskesmas, RS Syifa, dan RS Sultan Agung hanya sekitar 180-an saja. Sisanya sebanyak 220 orang tercatat ada yang pindah dari Banjarbaru, wafat, dan mangkir berobat.

Sedang sekitar 600 ODHIV belum terdeteksi, sehingga bisa dikatakan sebagai sumber penularan.

"Mereka belum terdeteksi karena berbagai faktor, di antaranya tidak tahu atau malu ikut tes walau diri merasa berpotensi tinggi sudah tertular,” katanya Jumat (1/12). 

Sebagai upaya menekan penyebaran AIDS di Ibu Kota Provinsi (IKP) Kalsel, pihaknya kata Edi rutin meminta golongan orang yang berpotensi tinggi untuk melakukan pemeriksaan rutin.

"Bisa pemeriksaan rutin per tiga bulan atau enam bulan sekali. Atau lebih amannya gunakan alat kontrasepsi ketika berhubungan,” ujar Epidemiologi Dinkes Banjarbaru itu.

Agar para pengidap mau diperiksa, masyarakat harapnya perlu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap mereka.

Karena ditargetkan pada 2030, Indonesia ELIMINASI HIV alias suatu kondisi tidak ada kasus HIV baru, tidak ada ODHIV yang wafat, juga tidak ada diskriminasi.

"Untuk mencapai target ini, dari sekarang harus terus mengedukasi masyarakat tentang HIV yang komprehensif. Tujuannya agar masyarakat tidak lagi punya pandangan yang salah tentang pengidap HIV, tidak ada lagi yang tertular HIV, tidak ada lagi yang menularkan HIV," jelasnya. 

Selain itu juga terus melakukan tes pada orang yang berisiko tertular HIV seperti ibu hamil, calon pengantin, pasien TBC, pasien IMS, LSL, WTS, pengguna Narkoba agar semua ODHIV terdeteksi.

"Terus mempermudah akses pengobatan HIV dengan menjadikan semua puskesmas dan RS mampu mengobati ODHIV, sehingga sebelum tahun 2030, yaitu misal 2027 sebanyak 95 persen estimasi ODHIV terdeteksi," harapnya. 

Bukan hanya terdeteksi, tapi juga mau berobat teratur agar tidak menjadi AIDS. Teredukasi agar tetap sehat dan tidak menularkan. 

Editor
Komentar
Banner
Banner