bakabar.com, MARTAPURA - Krisis air bersih di Banjar terus meluas akibat musim kemarau yang disertai pencemaran Sungai Martapura.
Kondisi tersebut menyebabkan 22 desa yang tersebar di delapan kecamatan mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Hingga pertengahan Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar telah menyalurkan lebih dari 430 ribu liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Distribusi dilakukan menggunakan puluhan mobil tangki yang menyuplai air ke tandon-tandon yang telah ditempatkan di desa-desa terdampak.
"Sebanyak 86 rit mobil tangki telah mengisi 82 tandon air untuk memudahkan penyaluran kepada masyarakat," papar Kelala BPBD Banjar, Wasis Nugraha, awal pekan tadi.
Adapun krisis air bersih ini dipicu oleh dua faktor yang terjadi secara bersamaan. Mulai dari musim kemarau yang menyebabkan kekeringan dan pencemaran Sungai Martapura.
Sejumlah desa mengalami penurunan debit sumber air, sementara wilayah di sepanjang Sungai Martapura tidak lagi dapat memanfaatkan air sungai karena penurunan kualitas.
"Dampak pencemaran masih dirasakan masyarakat di Kecamatan Martapura Timur, Martapura Barat dan Sungai Tabuk yang selama ini bergantung kepada Sungai Martapura sebagai sumber air utama," beber Wasis.
Dampak kemarau juga mulai meluas ke wilayah pesisir Banjar. Beruntung Baru menjadi salah satu kecamatan yang paling terdampak. Selain mengalami penurunan debit air, wilayah ini juga menghadapi intrusi air laut.
Kondisi ini menyebabkan banyak sumur warga mulai mengering, sedangkan air yang masih tersisa memiliki kadar garam tinggi sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kami memastikan penyaluran air bersih akan terus dilakukan selama masih ada laporan dari masyarakat," tuntas Wasis.









