Borneo Hits

Bantuan Foam dari Jepang Dukung Antisipasi Karhutla di Kalsel

Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mendapat dukungan dari pihak internasional.

Featured-Image
Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra. Foto: bakabar.com/Hasan

bakabar.com, BANJARBARU – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mendapat dukungan dari dunia internasional.

Salah satu perusahaan asal Jepang, Shabon-dama Soap, memberikan bantuan produk natural foam yang dapat digunakan sebagai campuran bahan pemadaman api, khususnya di lahan gambut.

Bantuan tersebut diserahkan awal pekan lalu sebagai bentuk dukungan dalam mengantisipasi potensi karhutla yang kerap terjadi sepanjang musim kemarau.

Produk ini diperkenalkan sebagai inovasi pemadaman yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

Sebelumnya, produk tersebut telah melalui penelitian di Kalimantan Tengah dengan melibatkan Universitas Palangka Raya.

"Hasil penelitian menunjukkan penggunaan foam tersebut mampu mengurangi kebutuhan air hingga 75 persen dibandingkan metode pemadaman konvensional," jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, Jumat (17/4).

Selain efisiensi penggunaan air, sabun natural foam juga memiliki kemampuan penetrasi yang lebih baik di lahan gambut, sehingga dinilai dapat mempercepat proses pemadaman api yang sulit ditangani.

Keunggulan lain dari produk ini adalah tingkat keamanan terhadap lingkungan dan petugas, "Cairan tersebut disebut tidak menimbulkan iritasi di kulit dan aman untuk tumbuh-tumbuhan di sekitar area kebakaran," papar Ronny.

Sebagai bentuk dukungan awal, pihak perusahaan memberikan bantuan sebanyak delapan jeriken sabu natural foam.

Setiap jeriken memiliki kapasitas sekitar 20 liter dan digunakan dengan perbandingan campuran 1 banding 100 dengan air.

Meski dinilai efektif, produk tersebut masih diimpor langsung dari Jepang sehingga berharga relatif tinggi. Satu jeriken berkapasitas 20 liter diperkirakan bernilai sekitar Rp4 juta.

Direncanakan pemadaman menggunakan sabun tersebut dilakukan menggunakan drone pertanian berkapasitas angkut hingga 100 liter, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Kapasitas tersebut dinilai cukup besar untuk mendukung operasi pemadaman skala awal, terutama dalam tahap penanganan dini sebelum api meluas. Sekarang persiapan masih difokuskan kepada proses pengadaan unit drone dan penyesuaian dengan kondisi lapangan.

"InsyaAllah uji coba penggunaan teknologi tersebut direncanakan berlangsung pertengahan Mei 2026," tutup Ronny.

Editor


Comment
Banner
Banner