bakabar.com, BANJARBARU - Pemkot Banjarbaru melakukan studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara baru-baru tadi. Tujuannya untuk belajar pengelolaan sampah dari sumbernya.
Termasuk mempelajari model pengelolaan sampah modern yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan akhir yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.
Pada hari pertama, rombongan Pemko Banjarbaru mengunjungi Kantor Kementerian Lingkungan Hidup.
Kemudian rombongan mengunjungi Suku Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Utara untuk mempelajari roadmap pengelolaan sampah yang sistematis, dimulai dari tingkat rumah tangga hingga pengelolaan akhir yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Pemkot Banjarbaru juga meninjau sejumlah lokasi pengelolaan sampah berbasis komunitas, di antaranya Kampung Iklim ProKlim RW 01 Tugu Utara yang menjadi contoh nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat.
Di lokasi ini, Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby bersama rombongan mempelajari berbagai inovasi seperti mesin pellet sampah organik (SOD), budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), serta pengelolaan sampah melalui drop point bambu fermentasi.
Selain itu, Lisa turut mengunjungi Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit) yang berfokus pada edukasi lingkungan dan pengolahan sampah kering melalui sistem daur ulang terintegrasi.
Edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan pengurangan volume sampah dari sumbernya.
Kunjungan juga dilanjutkan ke fasilitas pengolahan sampah modern RDF Plant Rorotan yang memiliki kapasitas pengolahan hingga sekitar 2.500 ton sampah per hari.
Di sini, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF), yang menjadi salah satu solusi pengurangan sampah sekaligus pemanfaatan energi terbarukan.
"Kami juga meninjau fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RPTRA Rorotan Indah I serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Rorotan," jelas Lisa Halaby, Kamis (9/4).
Kedua fasilitas tersebut menekankan pentingnya partisipasi aktif warga dalam pemilahan sampah organik dan anorganik untuk menekan volume sampah secara signifikan sejak dari sumbernya.
"Kami berharap dapat mengadopsi praktik terbaik pengelolaan sampah yang telah berhasil diterapkan di Jakarta Utara," tambah Lisa.
"Poin penting yang diambil adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berdaya guna bagi lingkungan serta ekonomi masyarakat," tuntas Lisa.









