bakabar.com, TEHERAN - Siapa yang akan memegang tampuk Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang terbunuh oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel? Konstitusi Iran telah mengatur proses suksesi apabila Pemimpin Tertinggi meninggal dunia.
Melansir Al Jazeera yang dikutip CNN-Indonesia, dalam mekanisme tersebut, kekuasaan sementara akan dipegang oleh sebuah dewan yang terdiri dari tiga orang, yakni Presiden Iran, Kepala Kehakiman, serta satu ulama dari Dewan Garda (Guardian Council).
Dewan ini akan mengambil alih kendali pemerintahan hingga Majelis Ahli (Assembly of Experts) menunjuk Pemimpin Tertinggi yang baru.
Selain itu, Al Jazeera melaporkan adanya kabar bahwa kewenangan tertentu juga diberikan kepada Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran. Meski demikian, laporan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi yang merinci bagaimana proses transisi akan berlangsung dan siapa kandidat terkuat untuk menggantikan Khamenei secara permanen.
Apabila kematian Khamenei terkonfirmasi sepenuhnya dan proses suksesi berjalan, kondisi ini dinilai akan menjadi titik balik besar (game changer) dalam politik domestik Iran maupun dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Sementara, Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa pihak Washington telah memiliki "gambaran yang sangat jelas" mengenai siapa yang akan mengisi tampuk kepemimpinan masa depan di Iran.
Pernyataan ini disampaikan setelah Trump menyebut banyak petinggi rezim Teheran yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Dalam wawancara telepon dengan ABC News, Trump mendeskripsikan serangan militer besar-besaran terhadap Iran tersebut berjalan "sangat baik."
Saat ditanya mengenai nasib jajaran kepemimpinan Iran pasca-serangan, Trump memberikan jawaban tegas mengenai tingkat kerusakan yang dialami musuh bebuyutannya tersebut.
"Banyak dari mereka (pemimpin Iran) telah tewas, ya. Kami belum tahu semuanya, tapi sebagian besar sudah habis. Itu adalah serangan yang sangat dahsyat," ujar Trump, seperti dilansir Anadolu, Ahad (1/3/2026).
Ia juga menegaskan keyanikan bahwa kekuatan militer dan politik Iran saat ini dalam kondisi kritis. "Kerusakannya sudah sedemikian rupa. Mereka sudah lumpuh," tambahnya.
Poin paling krusial dalam pernyataan Trump adalah indikasi bahwa AS telah mempersiapkan skenario pasca-rezim. Ketika ditanya apakah AS sudah memilih siapa yang akan memimpin Iran selanjutnya, Trump menjawab singkat namun signifikan.
"Ya. Kami sudah memiliki gambaran yang sangat jelas mengenai hal itu," tegasnya.
Terkait durasi serangan udara yang masih berlangsung, Trump mengisyaratkan bahwa AS tidak terburu-buru untuk berhenti menggempur Iran. Ia menyatakan serangan akan terus berlanjut selama AS menginginkannya.
"Selama yang kami mau, sebenarnya," kata Trump mengenai jangka waktu operasi militer tersebut.
Klaim Trump ini muncul di tengah ketidakpastian global mengenai nasib Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang banyak disebut telah tewas.
Jika benar banyak elite Teheran yang tewas, maka Iran tengah menghadapi kekosongan kekuasaan (power vacuum) dalam sejarah modern salah satu negara yang memiliki cadangan minyak dan gas alam terbesar di dunia ini.(*)









