Bisnis

Produksi Beras Indonesia Semakin Anjlok

Bapanas mencatat, produksi beras Januari-Agustus 2024 hanya sekitar 21,39 juta ton. Angka ini lebih rendah 2,24 juta ton dibandingkan periode sama tahun lalu.

Featured-Image
Pekerja memikul karung beras di Gudang Bulog.(Foto: Antara)

bakabar.com, JAKARTA - Meskipun masih surplus, produksi beras di dalam negeri terus mengalami penurunan. Hal ini harus diwaspadai agar tidak terjadi kelangkaan beras.


Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, produksi beras Januari-Agustus 2024 hanya sekitar 21,39 juta ton. Angka ini lebih rendah 2,24 juta ton dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Sedangkan total konsumsi beras periode Januari-Agustus 2024 diperkirakan mencapai 20,58 juta ton, lebih tinggi 210 ribu ton atau naik 1,03% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.


Sehingga neraca produksi beras RI pada periode itu hanya surplus 810 ribu ton, atau lebih rendah 2,45 juta ton atau 75% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.


"Jadi produksi turun konsumsi beras naik, ini harus kita waspadai," kata Sekretaris Bapanas Sarwo Edhy dalam Bincang Kompas di Jakarta, yang dikutip pada Kamis (18/7/2024).


Dia mengakui, saat ini Indonesia memiliki lahan baku sawah 7.463.948 hektare yang relatif lebih sedikit dari luas lahan yang ada. Luasan lahan sawah itu bisa menghidupi sekitar 278 juta jiwa.


Hanya saja, imbuh dia, luasan tanam padi terus menyusut. Sehingga, menurut Sarwo Edhy diperlukan pengembangan lahan rawa lebak untuk penanaman beras demi menjaga ketersediaan pangan untuk 500 juta jiwa.


"Kalau kita bisa mengoptimalkan 5 juta hektare saja secara bertahap maka Indonesia itu bisa menghidupi kurang lebih 500 juta jiwa," katanya.


Selain itu juga ada potensi lahan "tidur" lainnya yang belum dioptimalkan yaitu dari lahan 12 juta hektare dan lahan pekarangan mencapai 10 juta hektare.


Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan, terjadi penurunan produksi beras sepanjang tahun 2023 lalu. Hampir semua pulau mengalami anjlok produksi, dengan penurunan jumlah terbesar berasal dari Pulau Jawa.

"Penurunan produksi beras pada 2023 terjadi di sebagian besar pulau Jawa yang mengalami penurunan 0,29 juta ton atau turun 1,16%," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah dalam konferensi pers, Jumat (1/3/2024) lalu.


Jumlah produksi beras di Pulau Jawa tahun 2023 lalu mencapai 17,37 juta ton dengan Jawa Timur menjadi penyumbang tertinggi sebanyak 32,27%.


Penurunan terbesar kedua yakni dari Pulau Sulawesi yang anjlok 0,26 juta ton atau persentase tinggi -6,2%.


Uniknya, ada satu pulau yang mengalami kenaikan produksi, yakni Sumatera yang menyumbang 21,09% beras nasional. Pada tahun 2023 lalu, produksi beras di pulau ini menyentuh 6,56 juta ton atau terjadi kenaikan 0,08 juta ton (1,16%). Produksi Beras tertinggi ada di provinsi Sumatera Selatan yakni menyumbang 24,8% dari pulau Sumatera.


"Sedangkan ditinjau dari masing-masing provinsinya, kenaikan tertinggi produksi beras selama 2023 ada di Jawa Timur dengan jumlah 5.607,13 ribu ton atau naik 106,33 ribu ton. Kedua ialah Sumatera Barat dengan produksi 858,38 ribu ton atau naik 63,08 ribu ton dibanding 2022," kata Habibullah, yang dikutip dari CNBC Indonesia..


Di posisi ketiga ada Nusa Tenggara Barat yang memproduksi 876,27 ribu ton atau naik 48,75 ribu ton. Disusul Sulawesi Tengah yang menghasilkan 484,84 ribu ton atau naik 45,43 ribu ton dan Lampung yang memproduksi 1585,39 ribu ton atau naik 40,09 ribu ton.


Ketika kenaikan produksi di sejumlah daerah di angka tiga digit awal, di beberapa provinsi lain justru jeblok hingga lebih dari 200 ribu ton, termasuk di salah satu penghasil beras Sulawesi Selatan. Di provinsi ini produksi beras 2023 sebanyak 2.798,26 ribu ton atau terjadi penurunan -277,61 ribu ton dan menjadi provinsi dengan penurunan produksi terbesar.


Di tempat kedua ada Jawa Barat yang mengalami penurunan produksi hingga 169,60 ribu ton, sedangkan produksi tahun lalu di 5.278,21 ribu ton.

Di tempat ketiga ada Jawa Tengah dengan produksi 5223,80 ribu ton dan mengalami penurunan produksi 156,61 ribu ton.

Provinsi Aceh juga mengalami penurunan produksi sebanyak 60,62 ribu ton dengan produksi tahun lalu di 808,96 ribu ton.

Editor


Komentar
Banner
Banner