Geliat UMKM

Omzet Cokelat Produksi UMKM Sabang Aceh Ramai Diburu Wisatawan

Rumah Produksi UMKM Cokelat Sabang, Aceh semakin diminati para wisatawan menjadi oleh-oleh. Bahkan omzet penjualan selama musim liburan bisa mencapai Rp20 juta

Featured-Image
Produksi coklat asli Sabang. Foto: Antara

bakabar.com, JAKARTA - Rumah Produksi UMKM Cokelat Sabang, Aceh semakin diminati para wisatawan menjadi oleh-oleh. Bahkan omzet penjualan selama musim liburan bisa mencapai Rp20 juta ke atas.

"Dengan rata-rata penjualan bisa sampai 800-1000 pieces," kata Manager Produksi Cokelat Sabang Melan Mata Diansyah seperti dilansir Antara, Selasa (28/11).

Melan menerangkan saat di hari biasa omzet penjualan para UMKM tersebut rata-rata sekitar Rp12 juta sampai Rp17 juta per bulannya.

Baca Juga: Menanti Peran UMKM Perkuat Ekosistem Motor Listrik Lokal

Peningkatan omzet penjualan tersebut seiring dengan semakin tingginya tingkat kunjungan wisatawan. Sebab, dapat membeli cokelat sebagai oleh-oleh, wisatawan juga dapat melihat proses pembuatan cokelat.

Berdasarkan data google maps, dalam sebulan terakhir sebanyak 1.200 orang lebih mencari tentang rumah produksi mereka. Adapun sekitar 250 di antaranya meminta rute tempat usahanya.

"Jadi kunjungan ke Rumah Produksi Coklat Sabang meningkat bulan ini, ada 281 yang meminta rute," katanya.

Baca Juga: Transaksi Produk UMKM di Gernas BBI Tembus Rp353,7 Miliar

Melan mengungkapkan usaha cokelat tersebut masih diedarkan di sekitar Sabang. Sebanyak 20 persen keluar kota melalui pesanan online via aplikasi medsos Instagram.

Tahun depan pihaknya menargetkan pemasaran yang lebih luas setelah lolos perizinan BPOM.

Adapun soal produksi yang dilakukan masih sekitar 50-80 kilogram per bulan. Jumlah tersebut mengikuti permintaan pasar dan bahan baku kakao dari petani setempat yang berada di bawah langsung binaan Dinas Pertanian Sabang.

Hingga kini sudah ada tiga petani yang tetap menjual kakao langsung ke rumah produksi tersebut dengan lahan sekitar 3 hektare. Serta juga ada yang berada di bawah binaan pemerintah sekitar 41 hektare dengan 39 petani.

"Nanti saat kebun 39 orang petani itu sudah layak menjual bijinya, akan kembali ditampung oleh rumah produksi coklat Sabang," ujarnya.

Baca Juga: Airlangga Klaim Industri Kendaraan Listrik di Indonesia Meningkat

Baca Juga: Keren! Akhirnya Motor Listrik Asal Indonesia Dipasarkan di Malaysia

Sebelumnya, Menparekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno menyebutkan bahwa Coklat Sabang merupakan salah satu produk andalan di daerah Pulau Weh yang perlu dikembangkan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.

"Ternyata ada produk andalan yang bisa kita kembangkan di Sabang, yaitu coklat Sabang," kata Sandiaga.

Sandiaga berharap coklat Sabang bisa dikembangkan dengan kemasan yang lebih menarik, sehingga bisa ditawarkan sebagai suvenir, bukan hanya di Kota Sabang, tapi juga di Aceh secara keseluruhan.

Editor
Komentar
Banner
Banner