Tantangan Pertanian

Miris! Jumlah Petani dengan Kepemilikan Lahan Kecil Terus Meningkat

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah petani gurem atau petani yang menggunakan atau menguasai lahan dengan lahan kurang dari 0,5 hektare terus mengalami pening

Featured-Image
Petani Setelah Membabat Rumput di Sawah, Lumajang. Foto: apahabar.com/David Firmansyah

bakabar.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik mencatat jumlah petani gurem atau petani yang menggunakan atau menguasai lahan dengan lahan kurang dari 0,5 hektare terus mengalami peningkatan mencapai 16,89 juta Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP).

Jumlah tersebut ditemukan setelah dilakukan Sensus Pertanian 2023. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,64 juta RTUP atau 18,54 persen. Dibandingkan pada 2013 masih menyentuh angka 14,25 juta unit.

“Untuk Sumatra persentase RTUP gurem paling tinggi terdapat di Aceh sebesar 57.68 persen. Jadi lebih dari setengahnya RTUP di Aceh adalah petani gurem,” Sekretaris Utama (Sestama) BPS Atqo Mardiyanto seperti dilansir Antara, Senin (4/12).

Baca Juga: Para Petani Indonesia Semakin Menua, Siapa yang Meneruskan?

Proporsi petani gurem di Aceh mengalami kenaikan 60,50 persen dibandingkan tahun 2013. Kenaikan juga terjadi di Kalimantan Selatan yang menyentuh persentase 42,41 persen dari total petani.

Disusul Sulawesi Selatan dengan persentase RTUP mencapai 41,23 persen di Sulawesi Selatan. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 20,62 persen dibandingkan pada 2013.

Begitu juga dengan daerah Maluku dan Papua dengan persentase RTUP gurem paling tinggi terdapat di Papua Pegunungan sebesar 98,63 persen.

Baca Juga: BPS Catat Rata-Rata Petani di Jateng dari Generasi X

Berbanding terbalik, persentase petani gurem di Pulau Jawa yakni Yogyakarta justru turun sebanyak 13,91 persen di 2023 dibandingkan 2013. Kendati demikian, persentase RUTP gurem Yogyakarta masih tinggi karena berada di angka 87,75 persen.

Sedangkan untuk Bali-Nusa Tenggara, persentase RTUP garem paling tinggi terdapat di Bali sebesar 69,32 persen atau turun 3,02 persen dibandingkan 2013.

“Yang 87,5 persen itu tetap bertani hanya lahannya semakin berkurang. Dijualnya mungkin yang tadinya untuk pertanian sekarang tidak untuk pertanian sehingga lahan pertanian makin berkurang. Bisa dijual, bisa diwariskan,” pungkasnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner