bakabar.com, MARABAHAN - Masih terdampak banjir, puluhan satuan pendidikan di Barito Kuala menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR) sejak hari pertama pascalibur semester ganjil tahun pelajaran 2025/2026.
Dikutip dari dashboard satuan pendidikan terdampak banjir, Rabu (7/1), sebanyak 137 satuan pendidikan telah melaporkan dampak banjir di wilayah masing-masing.
Mulai dari Kecamatan Mandastana, Jejangkit, Alalak, Tabukan, Bakumpai, Kuripan dan Marabahan. Adapun satuan pendidikan yang terdampak terdiri dari PAUD sebanyak 47 unit, 76 SD, 8 SMP dan 6 SMA/SMK.
Dari puluhan satuan pendidikan, 81 unit di antaranya atau 60,4 persen menerapkan BDR. Sementara sebanyak 47 unit atau 35,1 persen tetap belajar normal.
Kemudian terdapat 6 unit satuan pendidikan yang diberi keterangan meliburkan murid, karena kondisi tidak memungkinkan untuk belajar normal maupun BDR.
Sekolah tersebut adalah SDN Balukung 1 di Kecamatan Bakumpai, SDN Sampurna 1 di Kecamatan Jejangkit, KB Karya Husada di Kecamatan Marabahan, TK Negeri Kuripan, KB Bunga Matahati dan TK Tunas Bangsa.
Khusus di SDN Sampurna 1, ketinggian air di halaman sekolah mencapai 60 hingga 80 sentimeter. Sedangkan air di dalam kelas menyentuh ketinggian 15 hingga 30 sentimeter. Situasi ini sudah berlangsung sejak 29 Desember 2025.
Adapun di SDN Balukung 1, air telah memasuki ruangan kelas setinggi 5 hingga 7 sentimeter. Adapun halaman sekolah terendam air setinggi 50 sentimeter.
Menyikapi situasi yang berkembang, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Satuan Pendidikan Terdampak Bencana.
Selanjutnya surat edaran tersebut menjadi acuan Dinas Pendidikan Batola juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/2/Disdik/2026 tentang BDR terkait Bencana Banjir dan Keamanan Sarana Prasarana Sekolah.
"Kami memang telah mengeluarkan surat edaran BDR, baik dengan WhatsApp Group, Zoom Meeting, virtual class atau lain-lain yang bersifat jarak jauh di kawasan terdampak banjir," papar Kepala Disdik Batola, Mas Aryansyah, dalam kesempatan terpisah.
"Penerapan BDR berlangsung sampai dengan situasi memungkinkan untuk kembali melakukan pembelajaran tatap muka di kelas," imbuhnya.









