Borneo Hits

Korban Investasi Bodong di Banjarbaru Geruduk Rumah Terduga Pelaku, Puluhan Miliar Tanpa Kabar

Puluhan warga yang mengeklaim korban investasi bodong di Banjarbaru, menggeruduk rumah terduga pelaku, Sabtu (9/3).

Featured-Image
Puluhan warga yang mengeklaim korban investasi bodong di Banjarbaru, menggeruduk rumah terduga pelaku, Sabtu (9/3). Foto: bakabar.com/Fida

bakabar.com, BANJARBARU - Puluhan warga yang mengeklaim korban investasi bodong di Banjarbaru, menggeruduk rumah terduga pelaku, Sabtu (9/3).

Berdasarkan pantauan bakabar.com, mereka sudah berada di pekarangan rumah terduga pelaku sejak pagi hingga sekitar pukul 19.00 Wita.

Namun lantaran tidak dapat bertemu orang yang dicari dan hujan juga mulai turun, akhirnya sebagian memilih pulang.

Mereka datang untuk menuntut kejelasan uang puluhan juta hingga miliaran rupiah yang telah diinvestasikan kepada terduga pelaku.

"Kami sudah berkali-kali datang untuk bertemu dan bertanya terkait kabar investasi, tetapi selalu gagal. Telepon yang bersangkutan juga tidak aktif," ungkap salah seorang korban yang enggan menyebutkan nama.

Adapun investasi yang dijanjikan terduga pelaku berkaitan dengan bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kepada calon investor, terduga pelaku yang merupakan seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun, enggan menyebut bisnis tersebut sebagai investasi. Perempuan ini lebih tertarik menggunakan istilah kerja sama usaha.

"Dari hasil kerja sama itu, kami dijanjikan menerima penghasilan sebesar 5 persen per bulan. Makanya saya berani berinvestasi lebih dari Rp1 miliar," sahut korban yang lain.

Lebih jauh lagi, korban tidak hanya dari Banjarbaru. Beberapa di antaranya berasal dari Banjar, Banjarmasin, hingga Tanah Bumbu.

"Kami memiliki WhatsApp Group khusus yang beranggotakan ratusan orang dengan perkiraan uang puluhan miliar. Itu belum termasuk di grup-grup lain," jelas korban.

Dugaan investasi bodong itu terbongkar sejak pembayaran komisi mulai macet sejak Februari 2024. Berdasarkan klaim beberapa korban yang sudah lama bergabung, baru sekarang bisnis ini bermasalah.

Editor
Komentar
Banner
Banner