Polusi Ibu Kota

Kondisi Udara Memburuk, PLTU Dituding Jadi Biang Kerok

Kondisi udara belakangan kian memburuk. Terutama di Jakarta. PLTU dituding jadi biang kerok.

Featured-Image
Kualitas udara di DKI Jakarta saat ini. Foto: Istimewa

bakabar.com, JAKARTA - Kondisi udara belakangan kian memburuk. Terutama di Jakarta. PLTU dituding jadi biang kerok.

Data Analis Continuum Indef, Maisie Sagita menyebut, menghadapinya masyarakat tak bisa pasrah. Dengan keputusan pemerintah saja.

Adapun, wacana pemerintah dalam menekan angka pencemaran udara sering kali tidak solutif.

Misalnya, dalam mendukung industri kendaraan listrik. Alih-alih mengurangi angka emisi dalam operasional sehari-hari. Kenyataannya pabrik untuk memproduksi listrik juga menghasilkan emisi.

"Jadi kan sama saja, mau BBM atau kendaraan listrik," katanya pada Diskusi Publik, Keluhan Masyarakat Vs Kebijakan pemerintah, di live Youtube Indef, Rabu (22/8).

Bahkan, dari data yang diberikan, melalui survey media sosial. Banyak publik yang tidak setuju akan hal itu. "Terdapat 92,1 persen masyarakat yang menolak,"  ungkapnya.

"Kalau kita ganti kendaraan listrik, ya asep PLTU yang bakal ngebul," sambungnya.

Beberapa PLTU telah mengepung ibu kota, menjadi biang keladi dari buruknya kualitas udara di Jakarta.

"Karena, kontributor utama polusi udara itu adalah pabrik batu bara," terangnya.

Dari data yang diberikan. Batu bara adalah penghasil polutan terbesar. "Hingga 42,3 persen," jelasnya.

Juga ada, kebijakan WFH. Meski mayoritas publik mendukungnya, tapi, kata dia, kebijakan itu dianggap belum efektif bagi sebagian masyarakat.

Begitupun juga dengan solusi dari pemerintah untuk memaksimalkan transportasi umum ramah lingkungan.

"Karena masalah utama pecemaran udara itu ada di PLTU," jelasnya. 

Dari situ, Maisie melihat adanya nada kepasrahan dari publik. Dari data yang diberikan. Hanya 11 persen masyarakat yang peduli dengan kesehatannya sendiri.

"Padahal perlu adanya inisiatif-inisiatif mandiri untuk menjaga kesehatannya, kalau saja pemerintah gagal dalam mengendalikan polusi udara," katanya.

Jika gaya hidup masyarakat tidak dirubah, sementara PLTU tetap dibiarkan merebak di ujung-ujung kota. Kondisi udara dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

"Bisa saja gatal-gatal dikulitnya atau bahkan terkena infeksi saluran pernapasan (ISPA)," paparnya.

Editor


Komentar
Banner
Banner