Industri Minyak Sawit

Indonesia-Malaysia Lawan Diskriminasi Minyak Sawit di Eropa

Indonesia dan Malaysia ingin membangun kolaborasi. Melawan diskriminasi minyak kelapa sawit yang dilakukan oleh Uni Eropa.

Featured-Image
Industri kelapa sawit di Indonesia. Foto via misekta.id

bakabar.com, JAKARTA - Indonesia dan Malaysia ingin membangun kolaborasi. Melawan diskriminasi minyak kelapa sawit yang dilakukan oleh Uni Eropa.

"Kita kan sama-sama di-banned oleh Uni Eropa. Kita kerja samanya supaya men-sued EU supaya CPO kita bisa dijual di sana," kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko, Kamis (19/20).

Indonesia dan Malaysia sama-sama penghasil sawit. Kerja sama ini juga dilatarbelakangi oleh kesamaan kedua negara yang memiliki Bursa CPO.

Baca Juga: Di Jambi, Harga CPO Naik Rp 123 per Kg

Meski begitu, Didid belum bisa memastikan bentuk kerja sama dengan Malaysia. Kata dia, saat ini kolaborasi kedua negara masih dalam tahap diskusi.

"Tapi kami sudah ada omong-omong dengan mereka kalau kita akan berkolaborasi," ucapnya.

Di sini lain, kehadiran Bursa CPO Indonesia bukan untuk menandingi Malaysia. Melainkan sebagai jembatan bagi kedua negara untuk berkolaborasi.

Baca Juga: Bursa CPO, Legislator: Perlu Pembahasan Bersama Pemerintah dan DPR

"Tapi tidak dalam posisi persaingan, tapi kolaborasi untuk yang sebaik-baiknya," ujarnya.

Biar tahu saja. November, bakal digelar konferensi sawit atau Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2023 di Bali. Di situ Didid berencana mempromosikan Bursa CPO kepada negara-negara lain.

"Saya nanti akan jualan di situ, nanti kita lihat responsnya," tutupnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner