Kanker Paru

Hati-hati, Kanker Paru Masih jadi Penyebab Tertinggi Kematian

Kanker paru masih menjadi momok kematian tertinggi. Sekitar 85% penderitanya adalah para perokok.

Featured-Image
Rokok Masih Menyumbang Penyakit Kanker Paru Terbesar. Foto: Freepik

bakabar.com, JAKARTA - Kanker paru masih menjadi momok kematian bagi banyak orang, dengan angka 85% penderita didominasi oleh para perokok.

Dua hari lalu, artis Kiki Fatmala meninggal dunia di usia 56 tahun. Keluarga mengabarkan, Kiki meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker paru-paru sejak tahun 2021 lalu. Desember 2022, Christopher suami Kiki mengatakan kanker Kiki sudah menyebar hingga ke otak. 

Kiki dikenal sebagai artis yang energik dan suka berolahraga. Tapi ia tak mampu melawan kanker paru-paru yang menyerangnya. Dua bulan lalu kondisinya memburuk, dan akhirnya berpulang pada Jumat, 1 Desember 2023.

Dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, SpP (K), Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Onkologi dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan, secara global, kanker paru masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada pria, dan nomor lima pada perempuan.

"Kasus meningkat pada perempuan tidak merokok dengan usia lebih muda terjadi di Indonesia, dibandingkan data dari negara lain," ungkap Dr. Sita dalam Media Briefing yang dilakukan PB IDI secara daring, Senin (4/12).

Dr. Sita menuturkan bahwa angka penderita kanker di Indonesia lebih muda 10 tahun dibandingkan negara lain, jika pada negara lain sekitar 63 hingga 68 tahun, di Indonesia angka rata-rata penderita di usia 58 tahun.

Kanker Paru. Foto: Freepik
Kanker Paru. Foto: Freepik

Hal ini disebabkan akibat usia awal pada perokok di Indonesia lebih muda dibandingkan negara lain. Bahkan ditemukan banyak anak usia sekolah di bawah umur mulai mengenal rokok.

Hal tersebut sangat disayangkan, menurutnya hal tersebut dapat dicegah dan disembuhkan dengan melalukan deteksi dini, sebelum menjalar pada stadium lebih parah.

Risiko terbesar dari kanker paru berasal dari laki-laki perokok, paparan asbes, polusi udara, riwayat Tuberkulosis (TB), riwayat keluarga dengan lebih dari 90% data pada stadium lanjut, hingga riwayat bekerja di lingkungan seperti pekerja tambang atau konstruksi.

Umumnya kanker paru lebih banyak tidak menunjukan gejala pada stadium awalnya, hal tersebut dikarenakan pada paru-paru tidak memiliki saraf perasa.

"Saraf perasa pada paru terdapat di dalam lapisan paru-paru, sehingga kalau belum terkena maka tidak menimbulkan gejala, namun jika sudah mengenai maka itu masuk pada stadium empat," tutur dr. Sita.

Berikut 10 Gejala Infeksi Paru-Paru, Salah Satunya Sakit Badan
Ilustrasi. Foto-Net

Beberapa gejala yang berhubungan dengan kanker paru diketahui seperti batuk-batuk, sesak napas, batuk berdarah, nyeri di dada. Bahkan dalam beberapa kasus, gejala lain menyerupai stroke atau kejang, yang disebabkan adanya penyebaran kanker ke otak.

Tak hanya rokok, vape (e-cigarette) atau rokok listrik, dan shisa menyumbang risiko terbesar dalam kanker paru dengan kandungan kotinin yang 30 kali lipat dibanding rokok biasa.

Maka dari itu, melakukan skrining dan deteksi dini sangat dianjurkan dalam menekan risiko dalam penyakit kanker tersebut.

"Sebelum adanya gejala dan risiko tinggi, disarankan melakukan CT Scan Thorax tanpa kontras," ucap dr. Sita.

Deteksi dini harus dilakukan untuk mencegah percepatan pertumbuhan kanker, dan menekan biaya yang lebih besar dikemudian hari.

Editor


Komentar
Banner
Banner