News

Demokrat Membaca Peluang di Pilgub Kalsel

Setelah perhelatan Pilpres dan Pileg 2024 berakhir, fokus kini bergeser ke Pilkada yang menjadi sorotan publik. 

Featured-Image
Ketua DPD Partai Demokrat, Ibnu Sina. Foto: bakabar.com/Riyad.

bakabar.com, BANJARMASIN - Setelah perhelatan Pilpres dan Pileg 2024 berakhir, fokus kini bergeser ke Pilkada yang menjadi sorotan publik. 

Dengan suasana politik yang masih hangat, masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) bersiap untuk memilih pemimpin daerah dalam kontes demokrasi lokal mendatang.

Perihal Pilgub, kabar teranyar datang dari Ketua DPD Partai Demokrat Kalsel, Ibnu Sina. Mengacu pada hasil Pilpres dan Pileg secara nasional, Ibnu optimis bisa memengaruhi peta politik di Kalsel.

Mengacu hasil real count Pileg 2024, pada Jumat (16/2), pukul 17.00 Wita, ada sembilan partai yang berhasil lolos ke parlemen. Atau, sudah mencapai ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

Partai Demokrat menjadi salah satu yang lolos. Dengan perolehan suara sementara 7,54 persen.

Di samping itu, Ibnu mengaku sudah mendapatkan rekomendasi dari DPP Partai Demokrat untuk mencari mitra koalisi.

Dalam konteks ini, Ibnu berharap bisa membangun komunikasi dengan berbagai partai politik di Kalsel.

"Kami diberikan amanah, mandat oleh DPP. Terima kasih banyak Pak Ketua Umum, Agus Harimurti Yudhoyono, bahwa untuk Kalsel kami diberikan mandat itu," ucapnya. 

Ibnu juga menyatakan, dalam mandat ia diarahkan untuk maju di Kalsel 1. 

"Tapi kami realistis. Kalau misalnya kesepakatannya siapa yang nomor satu atau dua, akan kami lihat juga," ujarnya.

Meskipun Ibnu tidak secara langsung menyebut kapan rekomendasi tersebut diberikan, namun dia menyatakan kesiapannya untuk menjalin komunikasi awal dengan partai-partai potensial.

"Termasuk yang berpotensi menjadi kandidat. Intinya adalah, kami komunikasi aja dulu," ujarnya.

"Dan yang penting, kalau sudah ada komunikasi awal, bila misalnya berlanjut, berarti bisa dicoba didalami lagi," tambahnya.

Ibnu menyadari betul, bahwa komunikasi tak bisa dilakukan hanya satu kali langsung selesai. Menurutnya, perlu berkali-kali hingga ada kesepakatan dan sepemahaman.

Lalu, Ibnu juga mengaku sangat realistis, bahwa tidak mungkin bila hanya menggandeng satu atau dua partai saja. 

"Jadi memang harus ada koalisi. Dua atau sampai empat partai. Karena untuk bisa mengusung calon (gubernur), minimal memiliki sebelas kursi di DPRD Kalsel," jelasnya.

Ya, seperti diketahui, untuk di DPRD Kalsel periode 2019-2024, kursi yang mampu diraih Partai Demokrat hanya berjumlah tiga. Perolehan kursi terbanyak, diraih oleh Partai Golkar yakni 12 dari total 55 kursi.

Disinggung sudah adakah partai yang diajak komunikasi, Ibnu menyatakan iya. Hanya saja, Ibnu masih belum mau membuka partai mana saja.

Namun, ia bilang bahwa di daerah itu masih lebih terasa lebih cair. Tidak kaku, seperti yang terjadi di nasional.

"Misalnya, biru tak bisa ketemu merah. Di daerah, justru bisa. Biru campur hijau, campur kuning juga bisa," ungkapnya.

Lebih jauh, selain pemilik jumlah kursi yang banyak, disinggung partai seperti apa yang diinginkan Ibnu, ia bilang yang punya banyak basis massa.

Karena menurut Ibnu, pentingnya basis massa yang kuat bagi partai-partai potensial dalam pembentukan koalisi. Ini menunjukkan bahwa partai-partai dengan dukungan yang besar memiliki peluang yang lebih besar untuk berkoalisi, meskipun tidak selalu harus menjadi partai papan atas.

Dengan demikian, proses menuju Pilkada di Kalsel dipenuhi dengan dinamika politik yang menarik dan menggugah minat publik.

"Ini juga otomatis lebih banyak punya peluang untuk bisa berkoalisi. Tidak mesti partai top," tandasnya. 

Editor
Komentar
Banner
Banner