bakabar.com, MARTAPURA - Banjir yang melanda Kabupaten Banjar sejak 27 Desember 2025 meninggalkan dampak serius bagi sektor perikanan. Dari hulu hingga hilir sungai, ratusan pembudidaya ikan terdampak dengan total kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar, dampak terparah terjadi di Kecamatan Karang Intan, seperti di Desa Penyambaran, disusul Desa Mali-mali, Sungai Arfat, hingga Sungai Batang di Kecamatan Martapura Barat. Arus deras sungai menghanyutkan keramba jala apung, sementara kolam-kolam ikan terendam hingga menyebabkan ikan lepas ke aliran sungai.
“Total pembudidaya ikan yang terdampak dari hulu sampai hilir mencapai 151 orang,” ujar Kepala DKPP Kabupaten Banjar, Sipliansyah, melalui Kasi Pengelolaan Pembudidayaan, Aprian Mindar Waspodo, Senin (19/1).
Jumlah kolam terdampak tercatat dalam data internal dinas, dengan estimasi total kerugian mencapai Rp4,46 miliar. Selain keramba yang hanyut, kerugian juga dihitung dari ikan yang hilang. Secara total, ikan terdampak banjir mencapai 1.735.856 kilogram, dengan nilai ekonomi sekitar Rp4.463.865.000.
Meski kerugian terbilang besar, DKPP memastikan stok ikan di Kabupaten Banjar masih relatif aman. “Pengaruh terhadap stok ikan tidak terlalu signifikan,” kata Aprian, seraya menambahkan sejumlah desa lain masih memiliki cadangan produksi.
Sebelum musim hujan, DKPP Banjar telah mengeluarkan imbauan kepada pembudidaya ikan, termasuk memperkuat tali keramba jala apung di sungai serta meninggikan tanggul kolam menggunakan waring. Namun, tidak semua warga mengikuti anjuran tersebut.
“Ada yang melakukan, ada juga yang tidak. Yang tidak berarti sudah mengambil risikonya sendiri,” ujarnya.
Ke depan, DKPP mendorong pembudidaya agar mematuhi standar teknis budidaya, termasuk jumlah ikan ideal dalam setiap keramba. Selain itu, dinas juga rutin menyalurkan vitamin ikan untuk meningkatkan daya tahan dan menekan risiko kematian, terutama saat cuaca ekstrem.
Pihak DKPP telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemkab Banjar agar pembudidaya ikan terdampak dapat memperoleh bantuan, yang rencananya dianggarkan melalui APBD Perubahan 2026.
Sementara itu, Pemkab Banjar resmi mencabut status tanggap darurat banjir terhitung Senin (19/1). Jumlah pengungsi dilaporkan menurun drastis, dan daerah kini memasuki masa transisi sambil menyiapkan langkah rehabilitasi pascabanjir serta pembaruan data warga terdampak.
Baca Juga: Status Darurat Banjir Banjar Dicabut, Kini Masuk Fase Transisi









