bakabar.com, PELAIHARI - Permainan harga oleh tengkulak kerap menjadi momok bagi petani jagung. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan (Kalsel). Menjelang masa panen, harga acap kali turun tanpa alasan yang jelas. Kondisi itu terjadi karena belum adanya standar harga yang melindungi petani.
Berangkat dari kegelisahan itu, Kapolda Kalsel, Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan berinisiatif. Standar harga jagung pipil harus dibuat. Tujuannya jelas, agar tengkulak tak bisa seenaknya menekan harga saat musim panen tiba, sehingga petani memperoleh harga jual yang lebih adil.
Standar itu dibuat dalam tabel rafaksi (potongan harga) jagung. Semakin rendah kadar air maka semakin baik. Aturan main ini juga sudah memiliki payung hukum yang jelas melalui keputusan Gubernur Kalsel. Dan diklaim ini baru satu-satunya di Indonesia.
Contoh, pada kadar air 35,51% – 36,00% (kadar air tinggi/basah), harganya berada di titik terendah, yaitu Rp 3.969,65. Ketika kadar airnya turun ke 20,01% – 20,50%, harganya naik menjadi Rp 5.065,47. Di tingkat kadar air yang lebih kering lagi, seperti 15,01% – 15,50%, harganya mencapai Rp 5.418,95.
“Tujuan tabel rafaksi ini agar bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Kalsel. Ini akan terus monitor polres melalui polsek-polsek,’’ ujar jenderal bintang dua itu di sela acara pencanangan Kabupaten Tanahlaut sebagai sentra jagung di Kalsel, Senin (29/6).
Ya, Tanahlaut kini resmi menjadi wilayah pertama sentra jagung di Kalsel. Pencanangan itu dilaksanakan Polda Kalsel bersama pemerintah provinsi di perkebunan jagung, kawasan Desa Banyuirang, Kecamatan Bati-Bati, Tanahlaut.
Dalam kegiatan itu, Polda Kalsel menggandeng pemerintah provinsi menyerahkan sejumlah bantuan, dari bibit jagung, pupuk, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan) sebagai bentuk dukungan kepada para petani.
Yudha memang begitu serius menjalankan program swasembada pangan di Banua. Khususnya pengelolaan perkebunan jagung. Menurutnya program pemerintah pusat itu harus dijalankan dengan baik dan serius.
“Masyarakat sering bertanya mengapa polisi ikut bertani dan berkebun? Ini merupakan perintah bapak Presiden dan bapak Kapolri. Dan harus dilaksanakan,” jelasnya.
Di penghujung kegiatan, juga dilaksanakan berdiskusi dengan sejumlah petani. Yudha ingin mendengar langsung kondisi pertanian jagung yang saat ini tengah digarap. Fakta-fakta yang terjadi di lapangan harus disampaikan apa adanya. Jangan ada yang direkayasa.
Salah seorang petani, asal Desa Pulau Sari, Kecamatan Tambang Ulang, Balot Syahmadi mengaku bersyukur karena harga jagung kini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
Balot bilang, harga jagung yang sebelumnya hanya berkisar Rp2.000 per kilogram kini naik menjadi Rp4.400 per kilogram pada musim tanam pertama dan Rp5.300 per kilogram pada musim tanam kedua.
Menurut Balot, perbaikan harga tersebut sangat dirasakan petani, terutama setelah diterapkannya Tabel Rafaksi yang menjadi acuan dalam penentuan harga jual jagung.
"Kami banyak mengucapkan terima kasih. Dulu harga jagung sekitar Rp2.000-an, sekarang sudah jauh lebih baik," ujarnya.
Tak hanya itu, sejumlah masalah pun turut disampaikan dalam pertemuan itu. Diantaranya soal BBM bio solar subsidi untuk alsintan yang mereka harus beli di eceran dengan harga yang lebih mahal. Ini menjadi persoalan lataran mereka tak dapat membeli langsung di SPBU.
“Tadi Kapolda berjanji akan mencarikan solusi permasalahan ini. Mungkin kedepan akan dilakukan MoU dengan pertamina. Usul beliau tadi seperti itu. Kalau begitu tentu ini menjadi solusi dan sangat membantu bagi kami,” pungkasnya.









