kekerasan pada anak

KPAI Terima 502 Aduan Kekerasan Anak di Tahun 2022, Jabar-Jakarta Tertinggi

Kekerasan terhadap anak rentan terjadi. Faktor lingkungan dan ekonomi masyarakat menjadi pemicu. KPAI melaporkan Jabar dan Jakarta rentan kekerasan anak.

Featured-Image
Ilustrasi anak korban pencabulan (Foto:Tempo)

bakabar.com, JAKARTA - Anak-anak di Indonesia rentan dengan kekerasan fisik maupun psikis karena keterbatasan mereka. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan pada tahun 2022 jumlah pengaduan kekerasan terhadap anak mencapai 502 kasus.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solihah mengatakan banyak faktor yang membuat anak menjadi objek kekerasan fisik dan psikis dan hal itu didukung perkembangan di wilayah mereka tumbuh.

"Faktor yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan fisik dan psikis kepada anak, di antaranya ada pengaruh negatif teknologi dan informasi, permisivisme lingkungan, sosial, budaya, dan lemahnya kualitas pengasuhan," kata Ai Maryati Solihah di Jakarta, Jumat (21/1).

Baca Juga: Menyikapi Kekerasan Seksual pada Anak yang Tak Kunjung Usai

Faktor lainnya, kata dia adalah kemiskinan keluarga, tingginya angka pengangguran, dan kondisi tempat tinggal yang tidak ramah anak. Sayangnya kekerasan itu banyak dilakukan orang-orang terdekat mereka.

Ia mengatakan hal tersebut memperlihatkan bahwa posisi anak sangat rentan terhadap kekerasan karena ada banyak faktor yang dapat menjadikan anak sebagai korban maupun pelaku.

KPAI, katanya, telah memotret data pelanggaran perlindungan anak dari seluruh Indonesia dengan merinci jumlah kasus yang terjadi di beberapa kota.

Baca Juga: Menteri PPA Sebut Kunci Menekan Angka Kekerasan Anak

Mereka mencatat ada 10 provinsi dengan pengaduan kasus pelanggaran hak anak tertinggi selama 2022, Kasus tertinggi ada di Jawa Barat 929 kasus dan DKI Jakarta 769 kasus.

Selain itu wilayah rentan kekerasan anak lainnya ada di Jawa Timur 345 kasus, Banten 312 kasus, Jawa Tengah 286 kasus, Sumatera Utara 197 kasus, Sumatera Selatan 62 kasus, Sulawesi Selatan 54 kasus, Lampung 53 kasus, dan Bali 49 kasus.

Editor
Komentar
Banner
Banner