Hot Borneo

Heboh Temuan Makam Keramat di Ulu Benteng Batola, Warga Mulai Datang Berziarah

Sejumlah warga mulai menziarahi sebuah makam yang diduga berkeramat di RT 11 Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Barito Kuala (Batola).

Featured-Image
Sebuah makam keramat yang telah menjadi perhatian warga Kelurahan Ulu Benteng di Kecamatan Marabahan. Foto: Warga Ulu Benteng

bakabar.com, MARABAHAN - Sejumlah warga mulai menziarahi sebuah makam yang diduga berkeramat di RT 11 Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Barito Kuala (Batola).

Awalnya tidak banyak yang mengetahui keberadaan makam tersebut, sampai akhirnya pepohonan dan rumput liar di sekitar dibersihkan dalam beberapa pekan terakhir.

Lantas belakangan sejumlah warga mulai berziarah ke makam yang terletak tidak jauh dari Masjid Hidayatul Muslimin itu.

Di antaranya juga meletakkan kain kuning sebagai penanda. Bahkan sekarang dibuat pondok khusus yang menaungi makam tersebut.

"Sudah mulai ramai diziarahi dalam sebulan terakhir. Sebelum kawasan sekitar dibersihkan, beberapa warga mencium aroma bunga melati dari arah makam," papar Sahrudin, salah seorang warga sekitar, Sabtu (26/11).

Namun demikian, belum diketahui sosok yang dimakamkan, termasuk usia pemakaman. Hanya ditemukan nisan dari kayu ulin tanpa keterangan apapun, kecuali tanah kuburan yang meninggi.

Di sisi lain, terdapat beberapa nisan dari kayu ulin di sekitar makam keramat. Namun sama seperti makam yang menjadi pusat perhatian, tidak tertera keterangan apapun di nisan.

"Dulu saya hanya pernah mendengar kisah dari orang tua soal seorang temenggung atau tokoh adat dari daerah hulu Sungai Barito. Temenggung ini singgah di Bakumpai (Marabahan) untuk menuntut ilmu Agama Islam," beber Sahrudin.

"Setelah menjadi muslim, temenggung ini berniat berangkat haji. Namun kemudian uangnya dicuri, sehingga batal ke Tanah Suci, sampai akhirnya meninggal di Bakumpai," imbuhnya.

Adapun warga yang pertama kali membersihkan makam tersebut bernama Jakfarudin. Kebetulan jarak kebun jeruk milik warga ini, berada cukup dekat dengan makam.

Dikabarkan bahwa sekitar 5 tahun lalu, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu mendapatkan dorongan agar merawat makam.

Meski tidak langsung dilakukan, akhirnya Jakfarudin mengikuti firasat tersebut, sebelum kemudian warga lain ikut membantu. Tak berselang lama, warga juga menyumbang kayu dan seng untuk dibuatkan atap di atas makam.

"Sampai sekarang kami masih mencari-cari silsilah makam itu. Kami sudah minta saran ulama, lalu dianjurkan agar makam ini dirawat saja," tambah warga lain bernama Asmuni.

Editor


Komentar
Banner
Banner