Regional

Disorot Bergaya Hedonis! Sosok Polwan asal Banjarmasin Agnis Juwita di Mata Kerabat

Belakangan terungkap, AKP Agnis adalah perwira polisi asal Banjarmasin Kalimantan Selatan. Polwan kelahiran Banjarmasin 1992 itu tercatat lulusan Akpol 2013.

Featured-Image
Kasatlantas Polres Malang, AKP Agnis Juwita Manurung saat menerima penghargaan. Foto-Dok

bakabar.com, BANJARMASIN - Kasatlantas Polres Malang, AKP Agnis Juwita Manurung, tengah disorot publik, karena diduga bergaya hidup hedonis. 

Betapa tidak, tas hingga kacamata yang dikenakannya menjadi perbincangan. Publik menduga aksesori yang dikenakan Agnis merupakan barang branded.

Sorotan publik ini membuat dia harus berurusan dengan Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur pada Senin, 27 Maret 2023. 

Belakangan terungkap Agnis adalah perwira polisi asal Banjarmasin Kalimantan Selatan. Polwan kelahiran Banjarmasin 1992 itu tercatat sebagai lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) pada 2013.

Meski sedang mendapat sorotan tajam dari publik, tapi tak semua orang sepakat dengan tuduhan itu. Sejumlah kerabat Agnis ikut mengomentari gaya hidup polwan muda yang justru bertolak belakang dengan tudingan masyarakat. 

"Setahu saya Agnis orang yang sederhana. Saya kenal dia sedari kecil," ujar Alex, saat ditemui di kediaman Ibunda Agnis, di Komplek Dharma Praja, Banjarmasin, Selasa (28/3).

Alex adalah sahabat dekat Agnis di kampung halamannya. Dia mengenal polwan bujangan berusia 30 tahun itu sejak masih SD. 

"Kami sahabat sejak kecil. Saya sudah menganggapnya sebagai kerabat. Soal berita Agnis ini membuat saya kaget. Karena saya tahu orangnya seperti apa," ucapnya.

Dari mulut Alex lah latar belakang Agnis terungkap. Dia adalah seorang yatim sejak kecil. Sang ayah meninggal saat dia duduk di bangku kelas 6 SD. 

Sejak saat itu, dia hanya tinggal bersama ibu, dan seorang kakak laki-laki. "Ayahnya meninggal tahun 2004. Ibunya seorang diri membesarkan kedua anaknya, dengan menjadi pegawai asuransi serta nyambi jualan pisang goreng dan es di sekolahan," beber Alex.

Rumah Agnis memang hanya selemparan batu dari SMAN 7 Banjarmasin. Jaraknya tak jauh. Persis di belakang sekolah. 

Di situlah sang ibu mencari uang tambahan dengan berjualan es dan pisang goreng, untuk membiayai hidup kedua anaknya.

Di sisi lain, SMAN 7 boleh dibilang salah satu sekolah favorit di Banjarmasin. Agnis juga tercatat sebagai alumni di sekolah itu. Dia lulus pada 2010.

"Anaknya memang pintar dari dulu. Sekolahnya unggulan semua dari SMP sampai SMA," terang Alex.

Alex pun tak heran jika sahabatnya itu bisa lulus di akademi kepolisian, hingga menjadi polwan dengan jabatan Kasatlantas Polres Malang.

"Setahu saya setelah lulus dari Akpol dia langsung ditugaskan di Malang. Walau jauh, dia sering jenguk ibunya di Banjarmasin. Ke makam ayahnya juga nggak pernah ketinggalan," ungkap Alex.

Selain itu, Alex sebagai sahabat dekat rupanya juga mengantongi data prestasi yang diperoleh Agnis selama menjadi polwan. 

Di antaranya Juara 1 Kategori Giat Preventif Ops Zebra Semeru 2022, meraih penghargaan Kategori Pengendalian Terbaik Kawasan Tertib Lalu Lintas, dan ketiga penghargaan Analisi dan Evaluasi Kinerja Ditlantas.

Kemudian mendapat penghargaan dalam pengungkapan kasus tabrak lari periode TW IV tahun 2022, serta Ksatlantas mendukung maksimal kegiatan Satu Abad NU di Kabupaten Malang.

Menurut Alex, gaya hidup hedonis yang disematkan terhadap sahabatnya itu terlalu berlebihan. Dia mengatakan kalau pun Agnis memiliki barang branded adalah hal wajar, selama itu tidak melampaui batas.

"Agnis masih bujang, lain halnya sudah berumah tangga. Duitnya pasti bisa dikumpulkan untuk beli barang yang dua mau. Bila disebut hedon, menurut saya aneh," jelasnya.

"Rumahnya saja sederhana di Dharma Praja. Saat banjir melanda Banjarmasin rumahnya juga ikut kebanjiran. Kalau duitnya banyak pasti sudah pindah," pungkasnya.

Editor


Komentar
Banner
Banner