Tak Berkategori

Berziarah ke Marabahan, Napak Tilas Kunjungan Abah Guru “Mengambil” Tarekat

apahabar.com, BANJARMASIN – Marabahan sempat menjadi rujukan para ulama di masanya. Pertama di masa Syekh Abdussamad,…

Featured-Image
Makam Tuan Guru H Basiyuni berjer dengan makam Sang Ayah, Tuan Guru H Abu Thalhah, dan kerabatnya. Foto-apahabar.com/Muhammad Bulkini

bakabar.com, BANJARMASIN - Marabahan sempat menjadi rujukan para ulama di masanya. Pertama di masa Syekh Abdussamad, kemudian berlanjut di masa Tuan Guru H Basiyuni. Nama kedua menjadi salah satu guru dari Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).

Abah Guru Sekumpul di tahun 90-an bersama ulama di Martapura lainnya mengunjungi Tuan Guru H Basiyuni untuk meminta ijazah tarekat. Sebagaimana diungkapkan Abah Guru dalam majelis beliau di Musalla Ar Raudhah, Tuan Guru H Basyuni adalah ulama yang mendapat izin dari Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang Mursyid Tarekat yang dikenal luas di zaman itu.

Makam Tuan Guru H Basiyuni berada di komplek pemakaman yang sama dengan leluhurnya, Syekh Abdussamad. Akan tetapi, makamnya berada di bangunan berbeda dengan cucu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari itu.

img

Makam Tuan Guru H Basiyuni dan keluarga. Foto-bakabar.com/Muhammad Bulkini

Di dalam Komplek pemakaman yang kini menjadi tempat wisata religi di Kota Marabahan tersebut, untuk pertama kali, peziarah yang datang akan mendapati bangunan indah dan megah, yang di tengahnya terdapat makam bertabur bunga. Makam itu adalah makam seorang pengusaha asal Marabahan, H Abdussamad Sulaiman HB.

img

Makam H Leman. Foto-bakabar.com/Muhammad Bulkini

Melewati bangunan makam H leman -pengusaha itu dikenal-, terdapat bangunan dengan satu makam di dalamnya. Makam tersebut adalah makam Tuan Guru H Syibawaihi atau yang juga dikenal dengan Guru Bawai. Guru Bawai sendiri, adalah anak dari Tuan Guru H Basiyuni.

img

Makam Datu Abdussamad. Foto-bakabar.com/Muhammad Bulkini

Sementara bangunan makam yang di dalamnya terdapat makam Tuan Guru H Basyuni adalah di bangunan yang ketiga, yakni di belakang bangunan yang di dalamnya terdapat makam Guru Bawai.

img

Makam Tuan guru H Bawai. Foto-bakabar.com/Muhammad Bulkini

Di dalam bangunan tersebut, Tuan Guru H Basiyuni berjejer dengan banyak makam lainnya. Di antaranya; Tuan Guru H Abu Thalhah (ayah Guru Basiyuni), Tuan Guru H Mansyur bin Abu Thalhah (Saudara), Istuchri Bey (Anak), dan Tuan Guru H M Qasthalani (anak).

Di bangunan terdalam, terdapat bangunan yang di dalamnya terdapat makam ulama Syekh Abdussamad. Makam ini, menjadi tujuan utama para peziarah yang datang ke Marabahan.

Petugas penjaga makam, Abdul Khair mengungkapkan peziarah yang datang sedikitnya berjumlah 300 orang di tiap harinya. Tapi jika hari libur, peziarah membeludak.

"Peziarah yang datang menjelang Ramadan, lebih banyak," ucap Abdul Khair yang sudah 4 tahun bertugas di pemakaman tersebut pada Sabtu (4/5/2019.

Warga Gampa, Marabahan itu, bertugas menjaga kebersihan di 4 bangunan makam di komplek pemakaman tersebut. Selain mengawasi makam, dia juga membersihkan kamar kecil dan mushalla.

Untuk dirinya -dan satu temannya sesama penjaga-, pihak keluarga besar Syekh Abdussamad membangunkan sebuah rumah persinggahan untuk mereka beristirahat. Bangunan tersebut tidak jauh dengan bangunan makam Syekh Abdussamad.

Peziarah yang datang, sambung Khair, tidak saja dari warga Marabahan, tapi juga berbagai daerah. Hal itu dibuktikan dengan daftar rombongan ziarah yang datang ke makam tersebut di buku tamu.

Baca Juga: Peziarah Ramai Jelang Ramadan, Petugas Ketiban Untung

Apahabar.com sempat berbincang dengan Mansah, seorang peziarah asal Banjarmasin. Dia datang bersama dengan rombongan dari Simpang Anem, Belitung.

"Sudah sering ziarah ke sini. Ziarah keliling, ke Martapura sudah," ucapnya.

Setelah berziarah ke makam Syekh Abdussamad dan keluarga, Mansah berencana melanjutkan berziarah ke makam lainnya di Marabahan.

Sementara itu, peziarah yang membeludak ke komplek pemakaman tersebut disambut ceria oleh pedagang yang menggelar jualan di sekitar komplek pemakaman.

Edi, penjual gorengan, mengaku sangat senang dengan banyaknya peziarah yang datang. Meski, dia mengaku, banyaknya peziarah tidak bisa diartikan, pedagang sepertinya meraup untung lebih banyak dari hari biasanya.

"Peziarah yang datang belum tentu membeli dagangan kita. Kadang-kadang, peziarah yang sedikit malah banyak yang membeli, peziarah banyak, malah lewat saja," ujarnya sembari tersenyum.

Tapi, Edi bersyukur dengan banyaknya peziarah yang datang. Setidaknya, ada kemungkinan mereka membeli jualannya.

"Paman asal Malang. Datang tahun 90-an, bersama pemain tong edan ke sini. Setelah tong edan, tak lagi diminati, paman kebingungan mencari rezeki. Sekarang lumayan," ucap mantan pemain Persema (Persatuan Sepak Bola Malang) itu.

Baca Juga: Peziarah Penuhi Makam Datu Syekh Surgi Mufti Albanjari

Editor: Muhammad Bulkini

Komentar
Banner
Banner