bakabar.com, BANJARBARU - Banjir masih menjadi ancaman utama di Banjarbaru, mengingat pola cuaca ekstrem yang terus terjadi.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, Harun Ar-Rasyid menyampaikan, penanganan darurat terus dilakukan di wilayah terdampak, dengan penguatan mitigasi ke depan agar dampak bencana dapat diminimalkan.
“Fokus kami saat ini memang penanganan akibat cuaca ekstrem, terutama banjir dan angin kencang. Tapi yang lebih penting ke depan adalah bagaimana masyarakat lebih siap menghadapi kondisi yang relatif terjadi setiap tahun,” paparnya, Rabu (7/01).
Dijelaskannya, sebelumnya banjir sempat merendam fasilitas pendidikan di kawasan Bangkal, dan menyebabkan sejumlah sekolah tingkat SD dan SMP terdampak.
Namun BPBD Banjarbaru segera melakukan rehabilitasi pascabanjir sebagai bagian dari perlindungan fasilitas publik.
“Sekolah di Bangkal sempat terendam satu malam. Setelah air surut, kami lakukan rehabilitasi dan restorasi, termasuk pembersihan lantai sekolah agar aktivitas belajar bisa kembali normal,” jelasnya.
Adapun wilayah dengan dampak paling signifikan tercatat di Kelurahan Landasan Ulin Timur, tepatnya kawasan Tambak Buluh.
Hujan lebat selama hampir setengah hari membuat air naik hingga setinggi paha orang dewasa dan memaksa puluhan kepala keluarga (KK) mengungsi.
“Di Tambak Buluh air sempat setinggi paha orang dewasa. Sekitar 53 KK terdampak, dan data terakhir pada Selasa (6/1), 35 KK dengan 118 jiwa masih mengungsi,” sebutnya.
Sementara untuk penanganan pengungsi, BPBD memilih memusatkan evakuasi di Kantor Kelurahan Landasan Ulin Timur. Langkah itu dinilai lebih aman dan efektif dibandingkan pendirian tenda darurat di lokasi banjir.
“Kami arahkan seluruh pengungsi ke kantor Kelurahan. Logistik yang kami berikan berupa makanan siap saji dan perlengkapan siap pakai,” bebernya.
Selain Landasan Ulin Timur, kawasan Landasan Ulin Selatan dan Guntung Manggis juga menjadi perhatian.
BPBD Banjarbaru bersama pihak Kelurahan terus melakukan pendataan dan pemantauan, mengingat wilayah tersebut merupakan daerah rawan banjir tahunan.
Harun menekankan pentingnya kesiapsiagaan warga sejak dini, sebab di lapangan masih ditemukan masyarakat yang belum sepenuhnya siap saat banjir datang.
“Kami melihat masih ada warga yang belum menyiapkan langkah antisipasi. Misalnya dokumen penting masih terendam, atau belum memiliki tas siaga bencana,” tuturnya.
Oleh karena itu, ke depan BPBD Banjarbaru akan memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat, termasuk mendorong warga menyiapkan rescue pack berisi surat-surat penting, kebutuhan darurat, dan perlengkapan dasar yang mudah dibawa saat evakuasi.
“Kesiapsiagaan ini penting agar ketika banjir datang, warga tidak panik dan bisa menyelamatkan hal-hal yang paling krusial,” tegasnya.
Dari sisi sarana, BPBD memastikan peralatan penanganan bencana masih memadai. Namun, evaluasi terus dilakukan, termasuk rencana penambahan unit kendaraan evakuasi dengan spesifikasi lebih tinggi untuk menghadapi banjir dengan kedalaman ekstrem.
“Kedepan kami mengupayakan penambahan unit rescue yang lebih tinggi. Kendaraan yang ada kemarin sempat terkendala karena ketinggian air,” pungkasnya.









