bakabar.com, BANJARMASIN – Perguruan tinggi swasta (PTS) dituntut semakin adaptif menghadapi era disrupsi teknologi yang mengubah pola pendidikan dan persaingan industri.
Hal ini disampaikan Prof Dr H Mohammad Zainul dalam pidatonya terkait pentingnya integrasi transformasi digital dan pemasaran strategis berbasis kualitas layanan.
Menurut Uniska MAB ini, pendidikan tinggi saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Pergeseran ini membuat PTS perlu mengelola institusi secara profesional layaknya organisasi modern yang berorientasi pada nilai, tanpa meninggalkan idealisme pendidikan.
“Calon mahasiswa kini melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Mereka mempertimbangkan biaya kuliah dengan manfaat karier yang akan diperoleh,” jelasnya.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, transformasi digital menjadi langkah strategis yang tidak bisa dihindari. Pemanfaatan situs web resmi dan media sosial seperti Instagram dinilai lebih efektif dalam membangun citra institusi dibandingkan metode promosi konvensional seperti pamflet.
Website berfungsi sebagai pusat informasi yang kredibel, sementara media sosial menjadi ruang interaksi dan storytelling yang mampu membangun kedekatan emosional dengan calon mahasiswa.
Kombinasi keduanya dinilai mampu memperluas jangkauan promosi sekaligus memperkuat positioning kampus.
Namun demikian, Zainul menegaskan bahwa kekuatan digital harus diimbangi dengan kualitas layanan yang nyata. Ia menyoroti pentingnya penerapan model Higher Education Performance (HEdPERF) sebagai alat ukur kualitas layanan pendidikan tinggi.
Model ini mencakup lima aspek utama, yaitu kualitas akademik, layanan non-akademik, reputasi institusi, kemudahan akses, serta relevansi program studi. Pendekatan berbasis layanan ini dinilai mampu meningkatkan nilai yang dirasakan mahasiswa.
“Ketika mahasiswa merasa layanan yang diterima sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, maka akan muncul loyalitas. Ini yang menjadi fondasi ketahanan institusi,” ujarnya, Senin (6/4).
Loyalitas mahasiswa tidak hanya berdampak pada keberlanjutan jumlah mahasiswa, tetapi juga menciptakan promosi dari mulut ke mulut yang positif. Hal ini dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan strategi pemasaran konvensional.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keunggulan kompetitif PTS akan terbentuk jika transformasi digital dan kualitas layanan berjalan secara terintegrasi. Strategi pemasaran tidak hanya harus informatif, tetapi juga mencerminkan identitas dan nilai institusi.
Selain itu, kemampuan membaca kebutuhan pasar dan memantau strategi pesaing menjadi faktor penting dalam menciptakan inovasi pendidikan. PTS juga perlu memperkuat sumber daya, mulai dari infrastruktur digital hingga kompetensi dosen dan tenaga kependidikan.
Di sisi lain, faktor finansial tetap menjadi pertimbangan utama bagi calon mahasiswa. Biaya kuliah yang terjangkau, ditambah dengan kualitas lulusan, akreditasi, dan fasilitas kampus, akan meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menentukan pilihan pendidikan.
Meski demikian, Zainul mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi strategi tersebut. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia dan belum optimalnya pengelolaan platform digital di banyak PTS.
“Masih ada yang mengelola media digital secara sporadis, bahkan dirangkap oleh dosen. Ini membuat komunikasi tidak konsisten dan kurang interaktif,” ungkapnya.
Untuk itu, ia mendorong PTS membangun ekosistem komunikasi digital yang terintegrasi dan profesional. Ke depan, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data juga dinilai penting untuk mendukung personalisasi layanan kepada mahasiswa.
Sebagai penutup, Zainul menegaskan bahwa masa depan PTS sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Integrasi antara kekuatan digital, kualitas layanan, dan orientasi pasar menjadi kunci utama dalam menjaga daya saing dan keberlanjutan institusi di tengah disrupsi global.



