News

Mengantar Leluhur ke Lewu Tatau, Haru dan Doa Mengiringi Tiwah di Desa Pundu Kotim

Tiwah di Desa Pundu diikuti sembilan kepala keluarga dengan total 30 almarhum yang akan diantarkan melalui ritual tersebut.

Featured-Image
Proses mengangkat kerangka dari makam dalam ritual tiwah di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu. Minggu (21/6/2026). Foto: bakabar.com/ Ilhamsyah Hadi

bakabar.com, SAMPIT - Suara doa dan lantunan ritual adat menggema di kawasan Kilometer 40 Desa Pundu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalteng, Minggu (21/6/2026). 

Di tengah suasana sakral itu, puluhan keluarga berkumpul untuk satu tujuan yang sama, mengantarkan orang-orang tercinta menuju Lewu Tatau, surga dalam kepercayaan Hindu Kaharingan.

Bagi masyarakat Dayak, Tiwah bukan sekadar upacara adat. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur, sekaligus simbol kasih sayang yang tetap terjaga meski kematian telah memisahkan.

Hari itu, keluarga melaksanakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian Tiwah, yakni mengangkat dan membersihkan tulang-belulang para almarhum yang sebelumnya telah dimakamkan. 

Setelah dibersihkan, tulang-belulang tersebut dibawa ke balai tulang di lokasi upacara untuk menjalani prosesi berikutnya.

Di balik prosesi yang terlihat khidmat, tersimpan perasaan haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. 

Berto, salah seorang panitia sekaligus keluarga peserta Tiwah, mengaku momen tersebut menjadi saat yang penuh emosi bagi seluruh keluarga.

"Terharu, bahkan sampai menangis. Tapi di sisi lain kami juga bahagia, karena ini adalah rangkaian terakhir kami untuk mengabdikan kasih sayang kepada almarhum," ujarnya.

Menurut Berto, proses pengangkatan tulang-belulang bukan dilakukan tanpa alasan. Dalam kepercayaan Hindu Kaharingan, tulang yang dibersihkan melambangkan persiapan perjalanan arwah menuju alam keabadian.

"Maknanya adalah membersihkan tulang-belulang agar perjalanan beliau menuju surga menjadi lebih mudah. Semua keluarga ikut terlibat, mulai dari anak, cucu, menantu hingga keluarga besar," katanya.

Tahun ini, Tiwah di Desa Pundu diikuti sembilan kepala keluarga dengan total 30 almarhum yang akan diantarkan melalui ritual tersebut.

Prosesi Ahli waris atau keluarga sedang membersihkan tulang belulang dan memasukan kedalam peti kecil khusus, dalam ritual Tiwah, di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu. Minggu (21/6/2026). Foto: bakabar.com/ Ilhamsyah Hadi
Prosesi Ahli waris atau keluarga sedang membersihkan tulang belulang dan memasukan kedalam peti kecil khusus, dalam ritual Tiwah, di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu. Minggu (21/6/2026). Foto: bakabar.com/ Ilhamsyah Hadi

Seluruh keluarga bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan upacara, mulai dari perlengkapan adat hingga hewan kurban yang menjadi bagian dari tradisi.

Rangkaian Tiwah telah dimulai sejak 20 Juni dengan sejumlah prosesi adat. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni melalui ritual pengantaran arwah menuju Lewu Tatau. 

Setelah itu, pada 23 Juni, tulang-belulang akan ditempatkan ke dalam sandung, rumah penyimpanan tulang khas Dayak yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, Tiwah bukan hanya tentang melepas kepergian. Lebih dari itu, ritual ini menjadi sarana menyampaikan doa dan harapan agar para leluhur memperoleh tempat terbaik di alam sana.

"Harapan kami semoga almarhum bisa sampai ke Lewu Tatau, sementara kami yang ditinggalkan diberikan kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, dan rezeki yang baik," tutur Berto.

Di tengah perkembangan zaman, Tiwah tetap menjadi warisan budaya yang dijaga dengan penuh penghormatan. 

Tradisi ini tidak hanya merekatkan hubungan manusia dengan leluhurnya, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan melalui semangat gotong royong yang diwariskan turun-temurun.

Tiwah mengajarkan bahwa cinta kepada keluarga tidak berhenti ketika kehidupan berakhir. Melalui doa, pengorbanan, dan kebersamaan, kasih sayang itu terus hidup, mengiringi perjalanan para leluhur menuju keabadian.

Editor


Comment
Banner
Banner