Pemkot Banjarmasin

Kasus DBD di Banjarmasin Melonjak, Bagaimana Upaya Pencegahan?

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banjarmasin mengalami lonjakan yang mengkhawatirkan.

Featured-Image
Ilustrasi DBD. Foto-Rmolaceh

bakabar.com, BANJARMASIN - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banjarmasin mengalami lonjakan yang mengkhawatirkan.

Teranyar, 33 kasus tercatat saat ini. Jumlah itu naik 50 persen dari sebelumnya yang hanya 17 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin, Tabiun Huda, menegaskan bahwa lonjakan ini dipicu oleh faktor lingkungan.

"Kami telah kehilangan dua nyawa. Seorang anak berusia 7 tahun dan remaja berusia 18 tahun, akibat virus nyamuk Aedes aegypti ini. Keduanya, masing-masing warga Telaga Biru, dan Pemurus," ungkapnya.

"Disana memang daerah padat penduduk. Kalau kasus paling banyak ada di Banjarmasin Barat,” tambahnya.

"Yang meninggal dunia ini karena tidak mengetahui dan telah datang ke Rumah Sakit," sambungnya lagi.

Atas temuan ini, Tabiun mengklaim telah melakukan fogging atau pengasapan di daerah kasus tersebut. 

Kemudian memerintahkan seluruh jajarannya melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak, tiga kali dalam seminggu.

"Cuma yang melakukan ASN masih bekerja. Sedangkan masyarakat pada menonton. Mestinya jangan sampai botol bekas terbuka dan jadi sarang nyamuk,” jelasnya.

Meski demikian, ditengah masyarakat Banjarmasin yang mobilitasnya tinggi, lonjakan yang terjadi tidak seberapa dibandingkan daerah tetangga.

"Artinya PSN lumayan berhasil. Semoga curah hujan kita juga berkurang,” klaimnya.

Lantas, apakah dengan kondisi kasus DBD saat ini bisa dikatakan menuju Kejadian Luar Biasa (KLB)? Tabiun menjawab masih terlalu dini.

"KLB itu ada syaratnya. Yakni lonjakan dua kali lipat dari tahun sebelumnya di suatu daerah," pungkasnya.

Editor


Komentar
Banner
Banner