News

Heboh! Ponpes Al-Zaytun Campurkan Pria dan Wanita Saat Salat Idulfitri, Begini Tanggapan MUI

Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, belum lama ini menghebohkan jagat media sosial lantaran menggabungkan jemaah pria dan wanita dalam satu saf

Featured-Image
Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, belum lama ini menghebohkan jagat media sosial lantaran menggabungkan jemaah pria dan wanita dalam satu saf saat melaksanakan salat Idulfitri. Foto-Tangkapan Layar

bakabar.com, BANJARMASIN - Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, belum lama ini menghebohkan jagat media sosial lantaran menggabungkan jemaah pria dan wanita dalam satu saf saat melaksanakan salat Idulfitri.

Dalam video yang dibagikan oleh akun Instagram @terangmedia, terlihat saf salat dibuat berjarak serta ada jamaah perempuan berada paling depan. Selain itu ada juga jemaah wanita duduk di saf pertama untuk mendengarkan khutbah.

Tak ayal, pelaksanaan salat Idulfitri yang terlihat tidak biasa ini langsung mengundang komentar dari warganet.

"Dahh biarin aja, mo sholat sambil kayang juga terserah klo udah merasa ekslusif....," tulis warganet.

"Semakin dibiarkan semakin banyak yang sesat," timpal warganet lain.

Sementara itu menurut MUI Indramayu, ponpes tersebut dinilai memang eksklusif dan tidak bisa diintervensi.

"Memang Al-Zaytun itu kan pesantren di Indramayu, eksklusif kita tidak bisa intervensi apa-apa dan kalaupun kita tidak suka juga susah," ujar Ketua MUI Indramayu, KH Satori dilansir detikJabar, Senin (24/4).

Dia menyebut intervensi dari pemerintah juga terkadang tidak ditanggapi ponpes tersebut.

"Levelnya nasional pun kadang tidak ditanggapin gitu," tuturnya.
Menurut dia warga Indramayu tidak pernah bangga dengan keberadaan Ponpes Al-Zaytun. MUI Indramayu juga dinilainya tidak bisa melakukan banyak hal.

"Jadi terkait dengan itu, ya kami tidak bisa mengintervensi sebab walaupun berada di Indramayu, masyarakat Indramayu tidak pernah bangga adanya Al-Zaytun di Indramayu gitu. Sebab lagi-lagi ya eksklusif segala sesuatunya tidak mau dicampuri dan tidak ada seseorang pun yang bisa mempengaruhi," jelasnya.

Dijelaskan Satori, MUI pernah mendatangi Ponpes Al Zaytun, namun, dalam kunjungan itu, pihaknya tidak mendapat penjelasan yang pasti mulai dari tentang sumber dana hingga faham atau aliran yang diajarkan pondok pesantren itu.

"Saya dulu justru itu dulu waktu baru berdiri santrinya baru belasan ribu, saya masuk ke situ, ternyata Al-Zaytun itu susah, tidak transparan, sumber dana dari mana? Dari umat Islam. Ini alirannya apa? Kita ya pokoknya pakai aliran Islam. Nggak ada aliran Ahlusunah Waljamaah, pahamnya siapa siapa nggak ada," jelas Satori.

"Karena itu kami tidak pahami tentang Al-Zaytun. Dan kami lebih baik diam daripada ada semacam konflik horizontal antara sesama umat islam," tandasnya.

Editor
Komentar
Banner
Banner