bakabar.com, BANJARBARU - Banjir merendam sejumlah desa/kalurahan di beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Bahkan di sebagian wilayah, air menggenangi permukiman warga sejak medio Desember 2025 hingga sekarang.
Banjir tersebut melanda Hulu Sungai Utara, Balangan, Hulu Sungai Selatan, Banjar, Banjarbaru, Banjarmasin, Barito Kuala dan Tanah Laut.
Ketika berkunjung ke lokasi banjir di Martapura, Banjar, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyebut beberapa perusahaan tambang batu bara berpotensi menjadi salah satu pemicu air bah di Kalsel.
Hanif menyebut sejumlah perusahaan tambang seperti PT Adaro dan PT Antang Gunung Meratus masuk dalam daftar perusahaan yang diduga melanggar izin lingkungan sehingga menjadi pemicu banjir.
Berbeda dengan Menteri Hanif, Gubernur Kalsel H Muhidin menyebut air bah di Balangan bukan banjir bandang dan tidak berkaitan dengan aktivitas tambang batu bara atau kerusakan lingkungan.
"Namun untuk itu (banjir Balangan), kami tidak menemukan dampak kerusakan dari tambang maupun kayu," ungkap Muhidin seusai pelantikan pejabat eselon II di Persada Gedung Idham Chalid, Banjarbaru, Selasa (6/1).
"Banjir di Balangan itu bukan banjir bandang. Itu hanya karena air hujan yang meluap," tambahnya.
Wali Kota Banjarmasin periode 2010-2015 itu menilai persoalan utama yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah adalah kondisi Sungai Alalak.
"Kalau Sungai Alalak dibenahi dan masih saja terjadi banjir, baru dicari lagi solusi yang lain. Ini yang perlu dikoordinasikan bersama," tegas Muhidin.









