Borneo Hits

Bukan Bekas Luka Biasa: Kisah Wanita Disabilitas di Banjarmasin Melawan Sakitnya Tumor Jinak

Ini kisah tabah seorang Rosi, wanita disabilitas yang tinggal di sudut Kota Banjarmasin.

Featured-Image
Menahan Sakit: Rosi bercerita tentang sakit menahun yang dideritanya, Jumat (16/2). Foto: bakabar.com/Riyad.

Ini kisah tabah seorang Rosi, wanita disabilitas yang tinggal di sudut Kota Banjarmasin. Sudah empat tahun, dia menanggung sakit dari daging berlebih (keloid atau tumor jinak) yang tumbuh akibat bekas luka bakar di areal kemaluannya. Dalam kesempitan dan keputusasaan, Rosi membutuhkan uluran tangan.

***

Rosi duduk termangu di dalam barak kecil yang terperangkap di keheningan Gang Seroja, di tengah hiruk-pikuk Jalan Kelayan A, Kelurahan Murung Raya, Banjarmasin Selatan. 

Ketika penulis mengunjunginya pada Jumat siang, 16 Februari 2024, keadaan di tempat tinggal seluas 3x3 meter itu terasa amat menyedihkan.

Siang itu, Rosi tengah duduk di sebelah pintu. Di sampingnya, terlihat piring-piring kotor yang berantakan. Membuat suasana tempat itu menjadi tak hanya sempit, tapi juga panas dan terkesan lembab.

Sesekali, air muka wanita berusia 44 tahun itu tampak menahan hujaman rasa sakit yang muncul dari sekujur tubuhnya.

Kemalangan hidup Rosi bermula pada tahun 2005 silam. Kebakaran melanda rumahnya yang saat itu masih di Gang Papadaan, Jalan Kelayan A. Hampir separuh badannya diliputi luka bakar. 

Akibat musibah tersebut, kedua tangan Rosi cacat permanen. Kulit lengan atas dan bawahnya menyatu. Segala aktivitasnya jadi serba terbatas.

"Rasa sakitnya terasa sampai hari ini. Maka saya pun tak pernah absen minum obat," ujar Rosi.

Kondisinya itu memaksa Rosi senantiasa berdiam diri dan tak mampu lagi bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan saban hari, ia cuman mengandalkan gaji suaminya yang tidak menentu, karena hanya bekerja serabutan.

"Dia jarang pulang, karena kerja di tempat jauh. Biasanya kalau ada gaji, dia kirim uang. Kadang Rp200 ribu, bisa juga Rp300 ribu, atau juga Rp500 ribu kalau lagi banyak. Tapi awam selalu ada," ceritanya.

Karena melihat kondisi Rosi yang demikian, suaminya sempat berniat untuk berhenti bekerja agar bisa merawat sang istri.

"Tapi tidak saya izinkan. Karena jika dia tak bekerja, siapa lagi yang akan cari nafkah," katanya.

Dengan suaminya kini, yang telah bersama selama 14 tahun, Rosi diberkahi dua anak. Seorang putra berusia 13 tahun, dan putri berusia 6 tahun. Kedua buah hatinya inilah yang menemani hari-hari Rosi yang kelam.

Mereka tidak mengenyam pendidikan. Si sulung berhenti sekolah saat duduk di bangku kelas 6 SD. "Dia tidak mau lagi sekolah. Katanya ingin menjaga saya," ungkapnya.

Sementara si anak perempuannya, punya keinginan bersekolah, tapi terbentur kondisi keuangan keluarga yang tidak memadai.

Uang kiriman suami hanya cukup menutup biaya sewa rumah, makan sehari-hari, plus menebus obat-obatan penahan nyeri yang nyaris dikomsumsi Rosi setiap waktu.

"Sudah tidak terhitung saya minum obat. Mungkin ribuan butir," gumamnya.

Setahun terakhir, Rosi memang terdaftar sebagai salah satu warga penerima bantuan program keluarga harapan (PKH) dari Dinas Sosial (Dinsos) Banjarmasin, tapi itu juga jauh dari cukup.

Terlebih, penderitaan Rosi makin bertambah sejak empat tahun terakhir. Rasa nyeri muncul dari bekas luka bakar yang ada di daerah kemaluannya.

"Ada daging berlebih yang tumbuh. Gatal dan sangat perih sekali. Apalagi saat buang air kecil," keluhnya dengan suara lemas.

Sakit itu, kata dia, kian menjadi-jadi sejak empat bulan terakhir. Rasanya begitu tidak tertahankan. "Reaksi obat bahkan hanya tahan selama 30 menit. Setelah itu sakit datang lagi," sebutnya.

Dalam hatinya, Rosi berkeinginan besar untuk memeriksakan dan merawat penyakitnya ke rumah sakit. Namun apa daya, kondisi ekonomi lagi-lagi tak memungkinkan.

"Saya tahu, untuk ke rumah sakit pasti perlu biaya. Saya tidak punya. Untuk makan saja sulit," ucapnya lirih.

"Kalau ada dana, yang paling saya inginkan sebenarnya untuk membersihkan keloid itu," imbuhnya.

Saking putus asanya, Rosi bahkan pernah beberapa kali berpikir untuk coba mengakhiri hidupnya.

"Sempat saya berpikir untuk gantung diri. Tapi karena ingat anak, niat itu saya urungkan," tuturnya.

Maka dari itu, dalam menghadapi hidup yang penuh keterpurukan, Rosi berharap ada cahaya di ujung terowongan gelap yang dilaluinya.

Dukungan dan bantuan dari pemerintah ataupun masyarakat sangat dinanti. Untuk dapat meringankan beban yang selama ini ia pikul, sehingga bisa kembali merasakan kesehatan.

Editor
Komentar
Banner
Banner