bakabar.com, BANJARMASIN – Satu dekade menghidupkan dunia perfilman di Kalimantan Selatan, Forum Sineas Banua (FSB) resmi mendeklarasikan Yayasan Ruang Sinema Banua. Deklarasi yang digelar di markas FSB, Jalan Pramuka, Banjarmasin, menjadi tonggak baru bagi organisasi yang selama ini menjadi wadah para sineas, pembuat film, hingga pegiat seni audiovisual di Banua.
Perayaan HUT ke-10 FSB dihadiri para pegiat perfilman, produser, kru produksi, komunitas film, hingga pelajar SMK jurusan broadcasting dan perfilman. Selain ramah tamah, kegiatan juga diisi diskusi interaktif dengan konsep diskusi terbalik, di mana para pelajar diberi kesempatan mengajukan pertanyaan langsung kepada para sineas senior.
Ketua Forum Sineas Banua, Munir Shadikin mengatakan, pembentukan Yayasan Ruang Sinema Banua dilakukan agar perjuangan membangun ekosistem perfilman memiliki landasan administrasi dan kelembagaan yang lebih kuat.
“Selama ini Forum Sineas Banua sifatnya lebih cair sebagai komunitas. Dengan adanya yayasan, posisi kami menjadi lebih kuat secara administratif maupun kelembagaan,” ujarnya.
Menurut Munir, selama 10 tahun terakhir FSB telah bermitra dengan berbagai pemerintah daerah di Kalimantan Selatan. Namun, pergantian kepemimpinan daerah kerap memengaruhi kesinambungan program yang telah dibangun.
“Kami sering menjadi mitra, penyelenggara bahkan konsultan kegiatan perfilman. Tapi ketika terjadi pergantian kepala daerah, tentu ada dinamika baru. Karena itu kami ingin memiliki pondasi organisasi yang lebih kuat,” katanya.
Ia menilai kualitas sumber daya manusia perfilman di Kalimantan Selatan juga terus berkembang. Untuk produksi film skala kecil hingga menengah, kru lokal dinilai sudah mampu menangani hampir seluruh tahapan produksi. Hanya beberapa posisi teknis tertentu pada produksi berskala besar yang masih membutuhkan tenaga dari luar daerah.
“Saya berharap 10 tahun ini menjadi pembuktian bahwa ruang seperti ini masih ada. Masih ada orang-orang yang menjaga api perfilman Banua secara swadaya. Harapannya bukan hanya 10 tahun, tapi bisa sampai 100 tahun,” ucapnya.
Sementara itu, Pembina Forum Sineas Banua, Ade Hidayat menilai perkembangan perfilman Banua dalam satu dekade terakhir menunjukkan kemajuan yang signifikan. Produksi film terus bertambah, mulai dari film pendek, film lokal, hingga film panjang yang berhasil menembus bioskop nasional.
Meski demikian, menurut Ade, masih ada satu mata rantai penting dalam ekosistem perfilman Kalimantan Selatan yang belum terpenuhi, yakni keberadaan bioskop mandiri sebagai ruang distribusi karya sineas lokal.
“Kalau produksi kita sudah banyak. Yang belum kita punya justru ruang distribusi. Kami berharap suatu saat Kalimantan Selatan memiliki bioskop mandiri sehingga karya sineas lokal punya tempat untuk diputar dan dijual,” jelasnya.
Selain mendeklarasikan yayasan, FSB juga tengah menyiapkan program bimbingan belajar khusus perfilman yang ditargetkan mulai berjalan tahun depan. Program tersebut akan membuka enam bidang pembelajaran, yakni penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, tata suara, penyuntingan, hingga artistik.
Ade berharap program tersebut mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia perfilman di Kalimantan Selatan. Di sisi lain, ia juga mendorong pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih besar terhadap subsektor film sebagai bagian dari ekonomi kreatif.
“Film juga merupakan bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Mudah-mudahan ke depan perhatian pemerintah terhadap perfilman bisa lebih besar,” pungkasnya.



