Pembuat Video Konten Kekerasan di Banjarbaru Diburu, Polisi Tegaskan Tidak Ada Gengster

Kasi Humas Polres Banjarbaru AKP Syahruji menekankan jika hingga saat ini, tidak ada gengster di Ibu Kota Provinsi (IKP) Kalsel. 

Rekam layar video kekerasan oleh sejumlah pemuda di Banjarbaru. Foto : Tangkapan layar video viral di Wa

apahabar.com, BANJARBARU - Kasi Humas Polres Banjarbaru AKP Syahruji menegaskan bahwa tidak ada gengster di Ibu Kota Provinsi (IKP) Kalsel itu.

Terkait penangkapan sejumlah remaja di sekitar Bundaran Simpang Empat Banjarbaru dan video viral sekelompok pemuda melakukan aksi kekerasan di Taman Kreasi Banjarbaru, Syahruji menekankan, bukan bagian atau berketerkaitan dengan gengster. 

"Tidak ada gangster di Banjarbaru," tegasnya saat dikonfirmasi apahabar.com, Senin (30/10). 

Syahruji menjelaskan, video viral yang memperlihatkan sekelompok pemuda mengenakan pakaian serba hitam membawa senjata tajam dan melakukan aksi kekerasan terhadap seorang pemuda lainnya hanyalah bagian konten (media sosial) semata. 

"Memang video tersebut sempat menjadi viral di media sosial khususnya WhatsApp Group dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa itu merupakan prank atau rekayasa," jelasnya. 

Sehingga, lanjutnya, tidak ada korban sungguhan seperti yang tampak di dalam video berdurasi 21 detik itu. 

“Video itu dibuat oleh sekelompok pemuda untuk tujuan hiburan, hanya demi kepentingan konten agar bisa viral dengan mencoba menirukan kasus gangster yang terjadi di Banjarmasin," lanjutnya. 

Untuk itu, Polres Banjarbaru  saat ini tengah mengidentifikasi dan mencari para pemuda yang terlibat dalam pembuatan video itu untuk dimintai keterangan. 

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dengan video-video yang beredar di media sosial maupun WhatsApp Group. Masyarakat juga diminta bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

“Tidak ada ruang atau tempat bagi gengster di wilayah hukum Banjarbaru," tuntasnya. 

Sementara itu, masyarakat Kota Idaman, Gifta mengatakan, jika isu gengster di Banjarbaru itu sempat berdampak pada dirinya. Sebab, pemuda berusia 16 tahun itu dilarang orang tuanya bepergian selepas waktu maghrib. Sedang di waktu tersebut, sudah menjadi kebiasaannya nongkrong bersama teman-temannya untuk sekadar bermain game online bersama. 

"Gara-gara gengster itu, saya ga dibolehin main keluar kalau malam. Padahal biasanya saya ngumpul buat mabar. Jadi sekarang malam di rumah saja," ungkapnya. 

Bahkan, Gifta bilang, ia juga dilarang berkumpul dengan komunitas motornya. 

"Saya ada gabung komunitas motor, biasa seminggu sekali ngumpul ngopi bareng atau sekedar ngobrol. Sekarang ga boleh juga, orang tua takut nanti saya disangka geng motor, disangka gengster. Padahal di Banjarbaru ini aman saja," tuturnya.