Kapolda Kalsel Tanggung Pengobatan Delfi dan Jailani, Dua Anak yang Tumbuh dalam Kehilangan

Tiga tahun lalu tepatnya 2022, sebuah kecelakaan di jalanan Kapuas Kalimantan Tengah merenggut orang tua mereka sekaligus mengubah arah hidup keduanya.

Falina Delfi saat ditengok Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan di RS Bhayangkara Banjarmasin. Foto: Syahbani

bakabar.com, BANJARMASIN — Sebuah rumah kecil di Sungai Tabuk menyimpan kisah yang tak mudah diucapkan. Di sanalah Falina Delfi dan Jailani, dua kakak beradik yang masih belia, menjalani hari-hari dengan tubuh yang menyimpan bekas luka dan ingatan yang perlahan mereka pahami seiring bertambah usia.

Tiga tahun lalu, tepatnya 2022, kecelakaan lalu lintas di jalanan Kapuas, Kalimantan Tengah, merenggut kedua orang tua mereka sekaligus mengubah arah hidup Delfi dan Jailani selamanya.

Saat itu, keempatnya berboncengan satu sepeda motor. Delfi berada paling depan, disusul sang ayah, Muhammad Haris. Jailani duduk di tengah, sementara ibu mereka, Khusnul Khatimah, berada di posisi paling belakang.

Di ruas jalan aspal yang rusak, sebuah truk yang hendak menyalip menyenggol motor dari arah samping belakang. Benturan keras tak terhindarkan.

Ayah mereka tak sempat bertahan lama. Beberapa menit setelah tiba di puskesmas, nyawanya tak tertolong. Sang ibu menyusul tak lama kemudian akibat pendarahan hebat. Delfi dan Jailani selamat, namun kecelakaan itu meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Kini Delfi berusia 11 tahun. Tangan kanannya tak lagi mampu menggenggam normal seperti anak-anak seusianya. Adiknya, Jailani, yang baru berusia lima tahun, mengalami luka di kaki kiri serta trauma mendalam setiap kali berhadapan dengan suasana rumah sakit.

“Kalau lihat dokter, dia bisa ngamuk, nangis histeris,” tutur sang nenek, Anisa Marita, yang sejak kejadian itu menjadi sandaran hidup kedua cucunya.

Lebih dari setahun, Marita dan keluarga memilih menyimpan kebenaran tentang kepergian orang tua Delfi dan Jailani. Setiap pertanyaan sederhana terpaksa dijawab dengan kebohongan kecil demi menjaga perasaan mereka.

“Kadang mereka tanya, ‘bapak mama ke mana?’ Kita jawab saja masih kerja,” ucap Marita pelan.

Harapan yang lama tertunda akhirnya datang dari arah yang tak disangka. Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rusyanto Yudha Hermawan, mengetahui kondisi Delfi dan Jailani saat meninjau lokasi banjir di Sungai Tabuk, 17 Januari 2026.

Dari pertemuan itu, muncul keputusan untuk membawa keduanya menjalani perawatan medis secara serius.

Kapolda Kalsel bersama jajaran Polda Kalsel dan Bhayangkari kemudian menjenguk Delfi dan Jailani di RS Bhayangkara Banjarmasin, Senin (19/1). Jenderal bintang dua itu memastikan seluruh proses pengobatan dan operasi kedua anak tersebut akan ditanggung sepenuhnya.

Bagi sang nenek, bantuan ini bukan semata soal biaya rumah sakit. Ada harapan besar yang ikut disematkan.

“Ulun tidak minta sembuh sempurna. Asal dia bisa mengikat rambut, pakai kerudung, itu sudah cukup,” katanya, menggantungkan harapan pada hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.

Sebelum tindakan medis dilakukan, Bhayangkari Kalsel memilih mendahulukan pemulihan trauma. Ketua Bhayangkari Daerah Kalsel, Yennie Rosyanto Yudha, menegaskan luka batin anak-anak ini tak kalah penting untuk disembuhkan.

“Kami ingin tahu sedalam apa trauma mereka, supaya pemulihannya bisa menyeluruh,” ujarnya.

Untuk penanganan medis, Jailani dijadwalkan menjalani operasi kaki pada Rabu (21/1/2026) oleh tim dokter spesialis bedah. Sementara Delfi masih menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan guna memastikan sumber gangguan saraf di tangan kanannya.

Jika diperlukan penanganan lanjutan, keduanya akan dirujuk ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta. Namun untuk saat ini, seluruh proses masih dilakukan di Banjarmasin.
Di balik ruang perawatan RS Bhayangkara, Delfi dan Jailani perlahan belajar percaya kembali—pada orang dewasa, pada dokter, dan pada masa depan yang sempat terasa jauh dari jangkauan.